GIIAS 2025: Pengunjung ‘Rojali’ Meningkat, Transaksi (Diperkirakan) Turun

Meski jumlah pengunjung selama 11 hari pameran GIIAS 2025 meningkat menjadi 485.569 orang, melampaui jumlah pengunjung GIIAS tahun lalu (2024) yang hanya dikunjungi 475.084 orang saja, GAIKINDO justru memprediksi pembelian kendaraan di GIIAS tahun ini mengalami penurunan. Apakah ini indikasi sebagian kelas menengah telah bertransformasi menjadi ‘Rojali’, ‘Rohana’, dan ‘Rohalus’ di tengah gegap gempita pameran otomotif terbesar itu?

BestCar Indonesia – Istilah “Rojali“, “Rohana” , dan “Rohalus” yang lagi ramai menjadi topik perbincangan di jagat media sosial, untuk pertama kalinya pula menjadi viral di ajang pameran otomotif terbesar dan terlengkap di Indonesia, GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 yang berlangsung sejak 24 Juli hingga 3 Agustus 2025. O ya, istilah “Rojali” (Rombongan Jarang Beli), “Rohana” (Rombongan Hanya Nanya-nanya), dan “Rohalus” (Rombongan Hanya Ngelus-elus) belakangan muncul untuk menggambarkan pola perilaku masyarakat yang datang ke mal sakadar untuk jalan-jalan tanpa berbelanja. Fenomena ini dituding menjadi penyebab sepinya bisnis ritel di sejumlah pusat perbelanjaan. 

Dan kini, fenomena ‘Rojali’ ikut menyeruak di tengah gegap gempita pameran otomotif GIIAS 2025. Menurut catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), selama 11 hari pameran GIIAS 2025 tercatat ada 485.569 pengunjung yang datang. Angka ini tentu melampaui jumlah pengunjung GIIAS tahun lalu (2024) yang hanya dikunjungi 475.084 orang saja. GAIKINDO memang memprediksi jumlah pengunjung GIIAS 2025 akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. “Pengunjung GIIAS 2025 hingga hari ke-10 sudah melampaui pengunjung tahun lalu. Maka kami yakin, angkanya akan mengalami kenaikan,” ujar Rizwan Alamsjah, Ketua III GAIKINDO, di ICE BSD, Sabtu (02/08/2025).

Rizwan juga menambahkan bahwa salah satu magnet bagi pengunjung adalah program test drive, dimana para pengunjung dapat membuktikan langsung kelebihan teknologi model kendaraan terbaru. Faktanya, fasilitas test drive GIIAS 2025 mendapat respon yang sangat baik dari para pengunjung, dengan total hampir 20 ribu trip test drive dilakukan sepanjang 11 hari pameran. Ini mencerminkan minat masyarakat yang tinggi terhadap teknologi kendaraan terbaru.

Pertanyaannya kemudian, apakah jumlah pengunjung GIIAS 2025 yang meningkat itu berkorelasi dengan kenaikan transaksi pembelian mobil? Nah, meski sejauh ini pihak penyelenggara GIIAS belum menjelaskan secara rinci berapa jumlah transaksi di GIIAS 2025, namun GAIKINDO mengindikasikan pembelian kendaraan di GIIAS 2025 mengalami penurunan. “Kalau saya lihat dari segi transaksi kelihatannya agak turun. Memang situasi ekonomi sekarang agak berat,” ungkap Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo Ketika diwawancarai media di ICE BSD, Tangerang beberapa waktu lalu.

Indikasi yang sama perihal transaksi penjualan selama pameran juga dikemukakan Ridwan Alamsjah. Menurutnya, walaupun GIIAS bukanlah ajang yang secara spesifik menargetkan angka penjualan, laporan dari peserta tetap menjadi perhatian. “Meski transaksi bukan target kami di GIIAS, namun kami menerima laporan peserta ada yang naik dan turun. Kami harapkan transaksinya sama kayak tahun lalu,” ujar Rizwan.

Tak heran pula jika Asosiasi industri otomotif terkemuka Indonesia (GAIKINDO) mengisyaratkan kemungkinan adanya revisi turun terhadap target penjualan mobil pada tahun 2025 ini, di tengah melambatnya permintaan nasional dan transaksi yang lebih lemah dari perkiraan di pameran otomotif terbesar di Indonesia itu.

GAIKINDO, sebelumnya telah menetapkan target penjualan wholesales (distribusi dari produsen/pabrik ke dealer) sebesar 900.000 unit untuk tahun 2025. Namun, angka wholesales pada Semester Pertama saja menunjukkan penurunan tajam, dengan penjualan dari produsen ke dealer hanya 374.740 unit atau turun sekitar 8,6 persen dari 410.020 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Angka wholesales sepanjang periode Januari – Juni 2025 Indonesia ini bahkan di bawah wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) di Malaysia untuk kawasan Asia Tenggara. Data yang dirilis Jabatan Pengangkutan Jalan (JPJ) Malaysia memperlihatkan, negeri jiran itu berhasil membukukan penjualan mobil dari pabrik ke dealer sebanyak 393.780 unit. Jumlah ini sedikit lebih banyak dibanding total wholesales mobil di Indonesia pada periode yang sama, juga dibandingkan wholesales Thailand yang hanya mencapai 319.627 unit.

Yohannes Nangoi mengakui adanya penurunan tersebut, dan menyatakan bahwa transaksi di GIIAS tahun ini pun menurun, meskipun ada peningkatan jumlah pengunjung dibandingkan tahun lalu. “Saya akan menunggu hingga akhir Juli atau Agustus untuk mengambil keputusan, tetapi kemungkinan besar kami akan merevisi targetnya,” kata Nangoi kepada media di lokasi GIIAS 2025 pekan lalu.

Nangoi mengaitkan melemahnya permintaan dengan tekanan ekonomi makro yang melemahkan daya beli kelas menengah, terutama untuk barang-barang non-esensial seperti mobil. “Ada indikasi kelas menengah mulai tiarap, dan itu akan melemahkan daya beli terhadap pembelian mobil, karena mereka akan berpikir ulang untuk mengeluarkan uang, terutama untuk cicilan jangka panjang, di tengah situasi ekonomi yang kurang menguntungkan. Bisa jadi faktor ini lah yang terlihat di GIIAS tahun ini. Situasi ekonomi agak menantang, dan penjualan kendaraan secara keseluruhan telah menurun sepanjang paruh pertama tahun ini,” ujar Nangoi.

Meskipun kinerjanya kurang memuaskan, Nangoi mengatakan bahwa GIIAS bukanlah ajang penjualan utama, melainkan platform untuk memamerkan teknologi dan model kendaraan baru. Ia menambahkan bahwa Gaikindo lebih menekankan pada Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) akhir tahun untuk penjualan mobil aktual. “Pameran ini bukan semata-mata tentang penjualan. Tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang teknologi otomotif terkini dan memperkenalkan model-model baru,” tambah Nangoi.

Jadi, apakah itu berarti sebagian para kelas menengah tersebut bertransformasi menjadi ‘Rojali’, ‘Rohana’, dan ‘Rohalus’ di GIIAS 2025? Belum pasti, memang. Tapi, setidaknya ada korelasi yang tak bisa dinafikan.

Teks: Yusran Hakim