Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search

Isuzu Siap Hadapi Regulasi EURO 4 Tahun ini

EURO 4 di Indonesia akan mulai dilakukan tahun ini untuk kendaraan berbahan bakar bensin, dan tahun 2021 untuk kendaraan diesel. Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain seperti Singapura, Thailand, dan negara lainnya yang sudah beralih ke EURO 4 atau bahkan lebih (EURO 5, EURO 6). Namun, bagaimanapun, teknologi EURO 4 itumembutuhkan bahan bakar dengan spesifikasi yang tepat pula.

 

BestCar IndonesiaPT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) menyatakan sudah sangat siap dalam menghadapi regulasi Pemerintah mengenai bahan bakar EURO 4 yang dijadwalkan bakal diberlakukan tahun 2020 ini. Keyakinan Isuzu tersebut karena sejak tahun 2011 pihaknya sudah memiliki mesin (engine) diesel Common Rail yang spesifikasinya kompatibel untuk mencapai standar emisi gas buang EURO.

Seperti diketahui, EURO 4 di Indonesia akan mulai dilakukan tahun ini untuk kendaraan berbahan bakar bensin, sedangkan untuk kendaraan diesel akan dilakukan di tahun 2021. Hal ini sudah disahkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘Standar Emisi Euro IV’. Presiden Jokowi bahkan telah menandatangani Perjanjian ‘Paris Degree’, yang menandakan bahwa Presiden sangat concern terhadap permasalahan emisi.

‘’Kami senang mendengar hal mengenai EURO 4, karena memang kita harus sama-sama mendukung kemajuan negara Indonesia. Kita masih tertinggal dari negara-negara lain yang sudah memberlakukan regulasi itu, seperti Singapura, Thailand, dan negara lainnya yang sudah beralih ke EURO 4 atau bahkan lebih (EURO 5, EURO 6),” ungkap Tonton Eko, Manager Product Development PT IAMI, dalam acara Bincang Diskusi Indonesia Siap EURO 4 di Jakarta, Senin (03/02/2020).

Isuzu, lanjut Tonton Eko, sudah sangat siap dalam menghadapi regulasi Pemerintah mengenai EURO 4, karena pihaknya sudah memiliki engine yang mendukung EURO 4 sejak tahun 2011, yaitu engine Common Rail. “Ketika regulasi ini dilakukan, tentu saja juga akan ada dampak untuk para pengusaha. Terutama pada bisnis logistik, karena dampaknya akan membuat ‘logistic cost’ meningkat juga,’’ paparnya.

 

Secara teknis, masih kata Tonton, kesiapan pabrikan dengan mesin common rail diesel tetap saja harus diimbangi dengan penyediaan bahan bakar yang sesuai oleh Pemerintah. Mesin dengan teknologi common rail membutuhkan bahan bakar dengan kadar CN (Cetane Number) minimal di level 51, kandungan sulfur sulfur maksimal 50 ppm (parts per million), dan kadar air dibatasi maksimal 200 ppm.

Penggunaan bahan bakar solar dengan kadar sulfur tinggi di mesin diesel dapat memicu beberapa masalah. Di antaranya, particulate matter (PM) cenderung naik jika kadar sulfur semakin tinggi. Sulfur akan teroksidasi saat pembakaran dan bereaksi dengan catalyst, sehingga menimbulkan asap putih. Sementara sulfur yang terkondensat akan menjadi H2SO4, yang mengakibatkan dinding silinder dalam ruang bakar mudah berkarat,” urainya.

Karena itu, lanjut Tonton, teknologi mesin diesel yang digunakan pun perlu menyesuaikan dengan bahan bakar solar yang dipersyaratkan tadi dengan penambahan komponen Exhaust Gas Recirculation (EGR) dan Diesel Oxidation Catalyst (DOC). EGR berfungsi mengurangi kadar nitrogen oksida (NOx) dalam gas buang, dengan cara mensirkulasi sisa gas hasil pembakaran (gas buang), kemudian didinginkan dan dibakar kembali di dalam ruang silinder. Sementara DOC menjadi garda terakhir untuk menyaring NOx bersama PM yang tersisa, sebelum akhirnya gas buang dilepas keluar.

Kadar NOx (Nitrogen Monoksida dan Nitrogen Dioksida) berlebihan dapat menimbulkan efek kesehatan, seperti sesak napas, bronchitis, dan kanker. Pada kadar 100 ppm, Nox bahkan dapat menyebabkan kematian. Sedangkan particulate matter (PM) yang terhirup dalam waktu singkat dapat memicu sakit tenggorokan, iritasi mata, dan asma dan dalam jangka panjang akan memicu berkurangnya fungsi paru-paru dan kardiovaskuler.

“Nah, Isuzu sendiri telah melakukan penyesuaian spesifikasi guna memenuhi standar emisi EURO 4 seperti ini. Masalahnya, EGR dan DOC merupakan komponen yang sangat rentan rusak jika menggunakan solar dengan kadar sulfur tinggi. Artinya, teknologi EURO 4 itu, bagaimanapun, membutuhkan bahan bakar dengan spesifikasi yang tepat,” kata Tonton.

Selain kesiapan produk, layanan purna jual juga menjadi penting, salah satunya dari sisi kemampuan mekanik dalam menangani teknologi baru. “Kami dari Isuzu juga sudah terbiasa menangani teknologi common rail. Setidaknya itu terbukti dengan kemenangan mekanik Isuzu Indonesia dalam Isuzu World Technician Competition CV (Commercial Vehicle) Division atau I-1 Grand Prix yang ke-12 di Jepang. Kemenangan tim mekanik Isuzu Indonesia ini membuktikan bahwa Isuzu Indonesia terus menerus berupaya memberikan pelayanan terbaik dalam hal After Sales Service, didukung oleh mekanik-mekanik yang andal,” tutup Tonton.

 

Teks & Foto: Tito B. Setiawan

Spesifikasi Mobil

Spesifikasi Keterangan
Tipe
Mesin
Tenaga Maksimum
Torsi Maksimum
Transmisi
Dimensi (P x L x t)
Wheelbase
Ground Clearance
Velg & Ban
Bobot
Kapasitas Tangki
0-100 km/jam
Konsumsi BBM
Kebisingan kabin idle/4000rpm
Harga



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *