Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search
MIRAI1

Toyota Mirai Fuel-Cell Sedan 2016

7.5 Score by BestCar Indonesia

Memang tak seseksi dan sesensional Tesla. Tapi dengan pengendaraan layaknya mobil ‘normal’ dibanding teknologinya yang begitu kompleks, jarak tempuh 480km untuk satu kali isi ulang tangki yang hanya butuh 3-5 menit, dan tanpa emisi, Mirai jelas menakjubkan. Yang Anda butuh sekarang hanyalah infrastruktur …!

Teks: Yusran Hakim | Foto: Yusran Hakim dan TMC

BestCar Indonesia – Dalam bahasa Jepang, “mirai” berarti “masa depan”…. dan Toyota Mirai adalah salah satu masa depan otomotif: mobil listrik ini bergerak dengan bahan bakar hidrogen dan satu-satu emisi hanyalah air, mampu menempuh sekitar 312mil (sekitar 650km) dengan pengisian ulang 5kg hidrogen yang hanya butuh waktu sekitar 3-5 menit.

Kedengarannya menarik, kan? Tentu, asalkan Anda dapat menemukan tempat pengisian bahan bakar yang hidrogen sudah tersedia. Apa boleh buat, inilah batas terbesar yang dihadapi kendaraan sel bahan bakar (fuel cell vehicles/FCVs, dalam istilah industrinya). Itu artinya, tanpa investasi yang signifikan dalam infrastruktur, Toyota Mirai – juga FCV lainnya — tidak bisa dianggap layak untuk sebagian besar orang.

Tapi bagaimana jika Anda salah satu yang beruntung? Katakanlah Anda tinggal di Jepang, Jerman, Korea, atau sebagian dari Amerika Serikat (California, misalnya), dimana hidrogen sudah tersedia di banyak stasiun pengisian bahan bakar dengan harga yang kira-kira sama dengan bensin atau solar. Apakah Mirai layak sebagai kendaraan harian?

Ya, tentu saja, asalkan Anda mampu membelinya. Sejujurnya, Mirai memang bukan mobil murah. Di Jepang saja, Mirai dibanderol mulai dari 6.700.000 yen (sekitar Rp 800 juta lebih) atau bisa mencapai  Rp 1,5 – 2 miliar jika dijual di Indonesia. Jelas tidak murah. Di Inggris, Mirai bahkan dibanderol sekitar 66.000 poundsterling. Cukup mahal untuk sebuah sedan saloon empat-kursi yang ukurannya sama, tetapi kurang praktis ketimbang Ford Mondeo terbaru di negara itu.

MIRAI2

Tapi, teknologi baru selalu terkait pada harga. Hidrogen telah lama dianggap bahan bakar ‘ajaib’ masa depan. Selain efisien, hidrogen juga paling berlimpah di alam semesta, seperti juga kebersihannya bagi lingkungan. Masalahnya, semua alasan tersebut masih masih jauh dari cukup dibandingkan biaya dan infrastruktur yang harus dipersiapkan. Ini seperti ‘ayam dan telur’: tidak ada infrastruktur, tidak ada mobil atau tidak ada mobil, tidak ada infrastruktur. Rumit, memang.

Toh Toyota mengambil langkah itu, meskipun sadar betul bahwa ini mungkin akan menjadi jalan yang sangat panjang. Alasannya sederhana: karena planet membutuhkan itu. Jadi, rasanya cukup adil jika Anda bisa memahami berapa banyak uang produsen mobil asal Jepang itu yang hilang pada setiap Mirai yang diproduksinya. Toyota bahkan telah membuat sekitar 5.680 paten ‘bebas royalti’ yang berkaitan dengan Mirai untuk menekan harga kepemilikan mobil hidrogen ini. Bisa dibilang Mirai adalah puncak dari tahun-tahun penelitian dan prototipe Toyota, dan merupakan model pertama dalam jajarannya yang dibuat secara komersial untuk ‘mensubsidi’ konsumen.

Mirai sekaligus juga merupakan bentuk upaya pertama Toyota untuk mewujudkan mobilitas berbasis tenaga hidrogen dalam proposisi pasar massal. Sebuah mobil dengan sel bahan bakar hidrogen, yang mencampurkan udara dengan hydrogen dari tangki lalu mengoksidasinya untuk membentuk listrik yang menggerakkan motor listrik yang terhubung ke roda depan. Tak ada emisi gas buang apapun, kecuali air (H2O) yang keluar dari pipa knalpot. Pertama kali diperkenalkan ke publik di ajang Tokyo Motor Show 2013, kini Toyota Mirai benar-benar merupakan paket lengkap mobil produksi yang dapat Anda beli langsung … hari ini!

MIRAI3

Tapi ‘produksi massal’ membutuhkan sedikit perbaikan, juga. Dan itulah yang dilakukan Toyota, sehingga Mirai kini 48 persen lebih ringan dari mobil konsep FCHV Toyota sejak tahun 2008. Juga 26 persen lebih bertenaga. Mirai dirakit di pabrik yang sebelumnya bertanggung jawab untuk, antara lain, Lexus LFA.

Tentu saja, Toyota tidak menciptakan Mirai dalam hitungan hari. Mirai telah dikembangkan selama 20 tahun — walaupun pada kenyataannya model kerja ‘fuel-cell’ pertama Toyota yang berbasis RAV-4 sempat diproduksi sebelum Prius pertama mulai dijual – dan itu menunjukkan berapa banyak R & D yang dituangkan dalam mewujudkan mobil hidrogen ini.

Sekarang, akhirnya, Mirai siap untuk dijual baik di Jepang, Eropa (Jerman dan Inggris) serta Amerika Serikat. Rencana awalnya Toyota akan memproduksi satu Mirai dalam setiap tiga hari. Namun rasio itu sepertinya meningkat, menyusul kesuksesan peluncuran kejutan di Jepang, yang memicu 1.500 pesanan di bulan pertama. Sementara harapan penjualan di Eropa sedikit lebih rendah, yaitu sekitar 50-100 unit per tahun.

Mirai memang bukan yang pertama. Di pasar telah ada Hyundai ix35 Fuel Cell yang juga merupakan mobil listrik hibrida berbahan bakar hidrogen, sejak awal tahun 2015. Tapi ingat, Toyota telah punya nama besar untuk ‘keseriusannya’ mengembangkan mobil-mobil hibrida massal. Toyota adalah salah satu pelopor otomotif emisi rendah ketika meluncurkan generasi pertama Prius pada tahun 1997. Hybrid listrik adalah konsep baru pada saat itu, dan Prius mampu merevolusi cara pandang kita terhadap mesin pembakaran internal. Lebih dari 15 tahun kemudian, Toyota telah menjual lebih dari satu juta unit Prius di Eropa, dan model terbarunya (2016) sepertinya akan meneruskan keberhasilan mobil hibrida massal andalan Toyota ini. Itu artinya Toyota membawa produk-produknya ke pasar hanya ketika itu baik dan siap, dan memiliki potensi untuk menjadi top kelas.

Jadi, itulah titik kunci di balik Mirai … dan beruntunglah saya memperoleh kesempatan menjajal langsung Toyota Mirai di fasilitas balap milik Toyota, Fuji Speedway di Shizuoka. Hanya test drive singkat, memang. Tapi setidaknya mampu memberi gambaran bakal seperti apa sedan fuel-cell hidrogen ini ketika melahap aspal di perkotaan atau jalan bebas hambatan yang menghubungkan antarkota.

Secara eksterior, sosok Mirai tampak terlalu jangkung untuk sebuah sedan. Tapi, menurut chief engineer Mirai, Yoshikazu Tanaka, ini merupakan konsekuensi bahwa Mirai membawa semua powertrain dan komponen strukturalnya dekat ke permukaan jalan, untuk memperoleh pusat gravitasi (center of gravity) yang lebih layaknya Prius baru (2016) yang berbasis TNGA (Toyota New Global Architecture) baru. Dalam konteks ini, bisa dibilang Mirai adalah cikal bakal TNGA.

Toyota terlihat berusaha merancang sedan fuel-cell andalannya ini agar tampak tidak terlalu jangkung. Caranya, garis bahu dilabur dalam warna hitam yang berbeda, membuat pusat visualisasi mobil terlihat lebih rendah (ceper). Toh faktanya, ketika Anda berdiri di sebelah Mirai, tetap terlihat panel metal body samping yang cukup panjang (dari depan ke belakang) di ketinggian pintu. Begitu pula dengan atap yang tingginya sejajar mata Anda. Secara postur, Mirai lebih mirip crossover ketimbang sedan saloon 4-pintu.

Desain eksterior Mirai terlihat semi-futuristik, dengan banyak sudut tajam dan ventilasi besar untuk menangkap sebanyak mungkin oksigen (udara) yang dibutuhkan untuk mendinginkan tumpukan sel bahan bakar dan memastikan air yang dihasilkan tidak mendidih. Sejujurnya, bodywork Mirai memang sedikit aneh untuk sebuah mobil ‘masa depan’ yang menggendong sederet teknologi canggih.  Sebagian orang mungkin berharap Mirai tampil dalam bentuk yang benar-benar futuristik (entah itu berbentuk gelembung, wedge, atau pod), tapi faktanya Mirai datang masih dengan empat roda dan empat pintu di bawah lengkungan atap, layaknya mobil konvensional.

HIGHLIGHT
Plus (+)

·        Konsumsi bahan bakar

·        Satu-satunya emisi hanya air

·        Kesenyapan kabin

·        Performa

·        Fitur hi-tech

Minus (-)

·        Harga

·        Keterbatasan infrastruktur bahan bakar hidrogen

·        Desain eksterior

Sementara styling eksterior Mirai mungkin tidak untuk semua selera, saya justru sulit membantah interiornya yang berkualitas tinggi. Menurut saya, ini adalah salah satu mobil paling mewah yang dibuat Toyota tanpa lencana Lexus, dengan dashboard, jok, dan setir yang semua berbalut kulit.

MIRAI4

Kabinnya sarat dengan teknologi dan fitur keselamatan serta keamanan, dengan navigasi touchscreen, kursi belakang berpemanas, rem darurat otomatis dan pemantau ‘blind spot’ sebagai standar. Sayangnya hanya ada satu pilihan trim/tipe yang ditawarkan Toyota.

SAMSUNG CSC

Interior Mirai didominasi oleh dashboard yang futuristik. Tata letak interiornya yang ergonomis sangat terasa Prius, dengan offset layar pusat instrumen dan konsol tengah yang menonjol bagi infotainment dan kontrol fungsi suhu kabin -- kontrol sentuh untuk ventilasi udara ditempatkan bersama dengan sistem media touchscreen. Kolase putih-hitam di sekujur dashboard, trim pintu, dan jok tampak luar biasa dalam kondisi masih baru, tapi lapisan kulit berwarna putihnya kemungkinan besar akan mengusam setelah beberapa tahun dipakai.

SAMSUNG CSC

Kualitas di seluruh kabin Mirai yang cukup luas kira-kira mirip dengan yang dimiliki Prius generasi ketiga. Ada sejumlah plastik soft-touch dan plastik keras yang berbeda-beda serta beberapa grafis yang memukau. Semuanya terasa kokoh. Dengan panel sel-bahan bakar (fuel cell) yang ditempatkan di di lantai ruang bawah kursi depan, posisi mengemudi menjadi cukup tinggi, memberi visibiltas bagus hampir ke segala arah.

MIRAI7

Karena secara marketing diposisikan sebagai sedan di segmen-D, Mirai harus bersaing dengan mobil sekelas seperti Mazda 6 dan Volkswagen Passat dalam hal ruang kabin. Namun faktanya, Mirai terbentur sedikit masalah dalam konteks ini. Kabin belakangnya hanya menyediakan sedikit ruang untuk kaki, dengan hanya dua kursi bagi orang dewasa berpostur jangkung yang harus ‘berjuang’ untuk mengatasi atap miringnya.

MIRAI8

Bagasi Mirai lebih mirip milik VW Golf ketimbang VW Passat. Cukup lebar memang, namun rendah alias sedikit dangkal, dengan volume mencapai 361liter (sekitar 144 liter lebih kecil dari bagasi Prius). Apa boleh buat, kapasitas bagasi memang terganggu oleh penempatan baterai dan tangki bahan bakar hidrogen kedua di belakang punggung kursi belakang – ini juga berarti kursi belakang tidak bisa dilipat, dan jangan berharap pula ada ruang untuk ban serep.

Tak lebih dari 10 menit di dalam kabin Mirai, rasanya saya sudah berani mengatakan bahwa sedan bertenaga listrik-hidrogen Toyota ini akan menjadi ‘niche car’ untuk ‘niche market’. Tetapi jika Anda kebetulan bagian dari kelompok itu, jelas bahwa Toyota Mirai adalah mobil masa depan yang harus Anda lihat.

Tak seperti mobil hybrid konvensional (semisal Prius), tata letak drivetrain Toyota Mirai yang mirip hybrid memberi jangkauan lebih luas berkat roda-depan yang secara permanen digerakkan oleh motor listrik. Ini sama dengan unit yang ada pada Lexus RX450h, tapi tenaga listriknya berasal dari reaksi kimia (elektrolisasi) dalam tumpukan sel bahan bakar hidrogen yang terletak di bawah lantai kompartemen penumpang Mirai. Emisinya hanya uap air – sebagian didaur ulang untuk mendinginkan/melembabkan proses elektrolisasi.

MIRAI9

Dua tangki berbahan serat karbon (carbonfibre) dan serat kaca (glassfibre) terpisah digunakan untuk menyimpan hidrogen di dalam kabin -- satu dipasang di bawah kursi depan dan lainnya di belakang kursi belakang. Gabungan kedua tangki ini member kapasitas total sebesar 124liter, cukup untuk menyimpan hingga 5kg hidrogen yang memungkinkan Mirai menempuh jarak lebih dari 300mil (480km) hingga mengisi ulang kedua tangki. Bandingkan dengan Hyundai Tucson fuel cell yang hanya mampu menempuh 265mil (424km) dengan kapasitas tangki lebih besar (6kg) dan waktu pengisian ulang yang lebih lama (sekitar 10 menit).

Panel sel-bahan bakar yang menggunakan kombinasi oksigen dari udara dan hidrogen untuk menciptakan listrik yang digunakan untuk menyalakan motor listrik, dipasang di bawah kursi depan (dilapisi penutup berbahan titanium yang beratnya hanya 57kg, dan dapat beroperasi pada temperatur hingga minus 30 derajat Celcius). Toyota mengklaim panel sel-bahan bakar ini memiliki umur yang sama seperti mesin pembakaran internal konvensional, mampu bekerja hingga 300.000mil (480.000km) sebelum memerlukan perbaikan.

MIRAI10

Singkatnya, proses itu berlangsung seperti ini: Sebuah panel atau tumpukan sel bahan bakar (fuel-cell) menghasilkan listrik dari reaksi elektrokimia antara hidrogen dan udara. Atom hidrogen dikompresi dan disimpan dalam tangki bertekanan tinggi -- Mirai memiliki dua tangki yang mampu menyimpan total 5kg hidrogen pada tekanan 10.000 psi – lalu dikirim melalui membran fuel-cell berlapis platinum yang memisahkan elektron dan proton mereka. Elektron menghasilkan arus listrik untuk menggerakkan motor drive yang memproduksi daya (power) 151hp dan 335Nm (247lb-ft) torsi. Sementara proton yang dibebaskan bergabung dengan oksigen di sisi lain dari membran fuel-cell, sebelum dikeluarkan melalui knalpot dalam bentuk air. Berapa banyak air? Sekitar 100cc per mil, menurut Toyota, atau kurang dari setengah cangkir kecil.

Seluruh proses tersebut melalui empat fase ‘boost converter’ yang secara keseluruhan menghasilkan tegangan 650 volt, sehingga kompatibel dengan sistem Synergy Drive Hybrid yang dikembangkan Toyota. Itu termasuk sebuah baterai nikel-metal hidrida konvensional yang dicomot dari Toyota Camry hybrid terbaru. Nah, baterai relatif kecil yang berkapasitas 1.6kWh ini digunakan untuk menyimpan kelebihan energi listrik yang terbuang dari panel sel-bahan bakar di atas tangki hidrogen kedua di belakang. Nah, kelebihan energy listrik  ini kemudian digunakan untuk membantu Mirai ketika melaju dalam kecepatan rendah, sekaligus bertindak sebagai ‘booster’ performa saat berakselerasi kencang – pengisian baterai terjadi melalui regenerasi energi pengereman, layaknya hibrida tradisional seperti Toyota Prius.

MIRAI12

Mirai menggunakan motor listrik tunggal (motor drive) yang mampu memproduksi tenaga maksimal 151hp dan torsi hingga 335Nm. Motor drive ini pada dasarnya adalah unit yang sama yang digunakan di Lexus 450h dan dipasang melintang di ruang mesin bersama dengan power control elektronik yang menyalurkan seluruh daya ke roda depan melalui transmisi berasio tunggal.

MIRAI13

Dengan panel sel bahan bakar yang ditempatkan di bawah kursi depan, motor listrik dan unit kontrol listrik di bawah kap mesin di antara dua roda  depan, Toyota mengklaim memberikan Mirai karakteristik mengemudi yang sporty. Mirai memang berpenggerak roda-depan (FWD), tetapi karena struktur bawah bodi dirancang ekstra kaku yang menjalar hingga ke kabin, Toyota mengklaim handling Mirai seperti mobil bermesin tengah – faktanya, sebagian besar bobot mobil yang totalnya mencapai 1.850 kilogram berada di sekitar bagian tengah kendaraan. Tapi benarkah itu berarti Mirai menyenangkan untuk dikendarai?

Mengingat kompleksitas teknologi yang dimilikinya, harus saya akui Mirai luar biasa mudah dikemudikan. Seperti mengendarai mobil listrik (EV) terbaru yang berbasis baterai, Anda tinggal menekan tombol start, menarik tuas persneling yang ditempatkan tinggi pada konsol tengah ke posisi ‘Drive’, dan Mirai langsung melesat dengan injakan ringan dari pedal gas.

Akselerasi awalnya halus, sangat halus malah. Kesenyapan kabinnya yang luar biasa berkat isolasi suara canggih, termasuk kaca akustik dan busa di sekujur rangkanya, membuat suasana kabin nyaris tanpa suara – kecuali suara sintetis dari speaker ketika Mirai melaju dengan kecepatan tinggi. Eh, ada juga suara aneh dari listrik yang berputar ketika Mirai berakselerasi agak kencang. Sedikit lebih keras daripada suara mobil listrik baterai (EV), tapi tak sekeras suara mesin bensin atau diesel regular.

O ya, ada juga suara hisapan dan mendesing dari balik kap mesin dan sayapnya. Belakangan saya baru tahu bahwa suara ‘menghisap’ itu berasal dari kompresor udara yang dirancang untuk meningkatkan jumlah aliran udara ke panel sel-bahan bakar untuk membantu memecah hidrogen. Sedangkan suara mendesing berasal dari pompa resirkulasi hidrogen.

MIRAI15

Namun jika Anda menginjak pedal gas secara tepat, sistem akan memberikan torsi instan khas motor listrik -- cukup untuk membuat roda depan ‘spin’ di permukaan jalan yang lembab. Dengan kata lain, dalam lalulintas yang sebenarnya, hal itu bisa diterjemahkan ke dalam kemampuan menyalip tingkat menengah yang kuat, dibuat mulus oleh transmisi single-speed yang diadopsinya.

Meskipun bobotnya mencapai 1.850kg, akselerasi Mirai membuatnya cocok untuk melahap lalulintas dalam kota. Saya memang tidak menguji akselerasi Mirai secara langsung lewat alat ukur, namun klaim Toyota menyebutkan angka 9,6 detik untuk melejit dari posisi diam hingga 100km/jam.

Kemudinya tergolong ringan, walaupun terasa kurang presisi di bagian tengah. Pengendaraannya juga nyaman, tapi tidak terasa luar biasa bagi Anda yang pernah mengendarai Prius. Di tikungan, Mirai juga cukup stabil dan lincah, dengan kemudi yang menawarkan respon menikung tidak terlalu tajam tapi juga tidak lamban. Center of gravity yang rendah -- berkat begitu banyak komponen utama yang ditempatkan rendah di dalam chassis – amat mendukung kestabilan bermanuver Mirai. Sejujurnya, buat saya pengendaraan Mirai memang tidak membosankan, tapi nyaris tanpa sensasi.

MIRAI16

Di sirkuit Fuji Speedway yang menyediakan juga trek dengan permukaan jalan bergelombang artifisial, saya merasa suspensi Mirai dirancang dengan sudut yang ideal, meskipun ‘bump control’ tetap terasa lebih baik pada kecepatan yang lebih tinggi dari 20km/jam. Dan seperti Toyota dan Lexus hybrid yang pernah saya kendarai, rem Mirai terasa sedikit keras di bagian atas injakan pedal, namun kemudian sangat mencengkeram ketika ditekan lebih keras.

Pertanyaannya kemudian, seberapa aman Toyota Mirai? Asal tahu saja, hidrogen tidak bisa meledak sendiri dan 14 kali lebih ringan dari udara sehingga dengan sangat cepat akan menguap ke atmosfer jika kebocoran. Toyota sendiri telah mendesain kabin Mirai benar-benar terisolasi dari panel fuel-cell, selain menempatkan tangki hidrogen berbahan serat karbon yang telah melalui pengujian 2,25 kali tekanan nominal 700bar, uji tabrakan, serta uji ketahanan terhadap api dan tembakan dengan senapan. Tentu, Toyota juga menempatkan sensor on-board yang mampu mendeteksi kebocoran sekecil apapun. Lagi pula, Anda tidak dapat mengisi bahan bakar hydrogen tanpa sistem pemeriksaan otomatis.

Jadi, akhirnya, seperti yang dikatakan Chief Engineer Toyota, Yoshikazu Tanaka, bahwa penyebaran infrastruktur hidrogen yang dibutuhkan oleh FCVs adalah "jalan panjang dan menantang" – besar kemungkinan hingga 10-20 tahun atau bahkan lebih lama". Tapi, jika dapat melakukan perjalanan 480km (300mil) untuk setiap isi ulang setangki penuh hidrogen, mengisi lebih cepat ketimbang pengisian baterai kendaraan listrik, senyap dan bertenaga, hanya mengeluarkan emisi air, dan dunia tidak akan pernah kehabisan hidrogen … tak layakkah Mirai buat Anda?

Mesin Hydrogen fuel cell stack with 244V nickel-metal hydride battery
Power maksimal 151hp
Torsi maksimal 335Nm
Transmisi Reduction gear, single-speed, front-wheel drive
Baterai 60kWh NiMh
Top Speed 170km/h (estimasi)
0-100km/jam 9,6 detik (estimasi)
Fuel efficiency L/100km
CO2 0g/km
Kapasitas tangki 5,0kg hydrogen gas
Harga n.a

 

Fitur: 9 airbags, satnav, velg alloy 17-inci, dual-zone climate control, heated front and rear seats and steering wheel, rear camera and parking sensors, auto lights and wipers, adaptive cruise control, keyless entry and start, wireless smartphone charging

Review Score by BestCar.id

  • 8
  • 7
  • 7.5

    Score

    Memang tak seseksi dan sesensional Tesla. Tapi dengan pengendaraan layaknya mobil 'normal' dibanding teknologinya yang begitu kompleks, jarak tempuh 480km untuk satu kali isi ulang tangki yang hanya butuh 3-5 menit, dan tanpa emisi, Mirai jelas menakjubkan. Yang Anda butuh sekarang hanyalah infrastruktur ...!