Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search

Toyota All New Rush TRD Sportivo 2018: “New Kid” on the Block

7.5 Score by BestCar Indonesia

OVERVIEW

BestCar Indonesia – Akhir tahun lalu, 23 November 2017 tepatnya, PT Toyota-Astra  Motor (TAM) secara resmi meluncurkan Toyota all-new Rush. Dengan penampilan yang sama sekali baru (all-new), Rush generasi kedua ini diklaim tetap mempertahankan DNA-nya sebagai kendaraan real SUV yang telah malang melintang di pasar mobil nasional sejak 2006 silam.

Sejak diluncurkan secara bersamaan dengan Daihatsu Terios pada tahun 2006 di Indonesia, baik Toyota Rush maupun Daihatsu Terios sama sekali belum melakukan perubahan model. Toyota Rush tercatat telah melakukan lima kali facelift untuk penyegaran dengan sedikit penambahan fitur-fitur, mulai tahun 2009, 2010, 2013, 2015, dan 2016, sebelum berganti model tahun 2017.

Faktanya, kehadiran Toyota Rush turut berkontribusi dalam mendongkrak volume pasar medium SUV di Indonesia yang saat itu (tahun 2006) hanya berkisar di angka 10.000-an unit per tahun. Namun sejak Rush (dan Terios) meluncur, angka tersebut melonjak menyentuh 30.000 unit hanya dalam waktu setahun (2007). Dengan total penjualan dari Desember 2006 hingga Oktober 2017 lebih dari 250.000 unit, Toyota Rush menjadi kendaraan paling sukses di segmen Medium SUV domestik.

Rush baru tersedia dalam dua varian, yakni G sebagai tipe terendah dan TRD Sportivo sebagai tipe tertinggi. Masing-masing varian ditawarkan dalam dua pilihan transmisi, yaitu Manual 5-speed dan otomatis 4-speed.

Sesuai janjinya setelah meluncurkan Toyota All New Rush pada 23 November 2017 lalu, PT Toyota Astra Motor (TAM) menetapkan harga resmi SUV medium andalannya itu mulai awal Januari 2018 ini, sekaligus mulai menyerahkan unit All New Rush kepada para pelanggannya. Cukup mengagetkan, karena banderol resmi All New Rush ditetapkan sama seperti model sebelumnya alias tidak mengalami kenaikan. Bahkan untuk varian 1.5 TRD Sportivo A/T, harganya lebih rendah Rp 3 juta dibandingkan model sebelumnya.

Mengambil patokan harga empat varian Toyota Rush model lama dari yang paling murah Rp 239,9 juta hingga yang termahal Rp 264,6 juta, maka harga masing-masing tipe Toyota All New Rush adalah sebagai berikut:

  • All New Rush G M/T :  Rp 239.900.000
  • All New Rush G A/T :  Rp 249.900.000
  • New Rush TRD Sportivo M/T :  Rp 251.300.000
  • New Rush TRD Sportivo A/T :  Rp 261.300.000

Dari daftar harga Toyota All New Rush tersebut terlihat bahwa pembeli tipe tertinggi TRD Sportivo A/T yang mengusung fitur terbanyak adalah yang paling diuntungkan, karena harganya lebih murah Rp 3 juta dari harga varian tertinggi TRD Sportivo A/T pada Toyota Rush lama yang dipatok Rp 264.600.000. Dengan asumsi harga baru yang relatif sama dengan model terdahulu ini, tak bisa dipungkiri langkah TAM akan memberikan value for money tinggi kepada para pelanggannya, mengingat model terbaru Rush ini mengusung perubahan desain eksterior, interior, mesin, serta sederet tambahan fitur yang jauh lebih lengkap dibanding pendahulunya.

Respons konsumen memang terlihat sangat positif terhadap All New Rush. Dalam dua pekan kehadirannya pada kancah otomotif nasional — terhitung 3 Januari-15 Januari 2018, medium SUV terbaru andalan Toyota ini telah berhasil meraih Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) sebanyak 7.120 unit.

“Sebagian besar dari 7.120  SPK berasal dari pesanan All New Rush TRD Sportivo. Ini sekaligus menunjukkan bahwa nuansa sporty yang kuat pada All New Rush mendapat respon yang sangat positif dari pelanggan,” kata Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto kepada para jurnalis nasional yang mengikuti test drive All New Rush dengan rute Purwakarta-Bandung-Jakarta, Rabu silam (17/01-2018).

Berdasarkan SPK yang sudah dilaporkan, dari 7.120 unit di antaranya berasal dari pemesanan varian tertinggi TRD Sportivo tipe automatic transmission (A/T) yang mencapai 49,9%, disusul varian TRD Sportivo manual (M/T) sebesar 39,1%, kemudian varian G M/T sebanyak 5,7% dan varian G A/T sebesar 5,3%. “Jadi, selain komposisi tranmisi terbesar pada tipe A/T sebanyak 55,2 persen dan M/T 44,8 persen, warna putih merupakan warna yang menjadi pilihan terbanyak dari konsumen diikuti warna black mica dan silver mica metallic,” kata Soerjopranoto.

Perubahan Menyeluruh

Mengusung konsep desain baru ‘Tough and Dynamic’ untuk mengisi pasar yang kian dinamis, penampilan eksterior All New Rush berubah drastis. Toyota menyebutnya sebagai representasi semangat dan gaya hidup kalangan urban dengan nuansa sporty. All New Rush tak lagi didominasi bentuk ‘boxy’ alias mengotak yang menjadi ciri SUV lama. Tampilannya kini jauh lebih modern dan sporty sebagai urban SUV yang sleek, meski tetap mencuatkan aura ‘real SUV’.

Toyota sendiri menyebut All New Rush memang didesain untuk style dengan kelas yang lebih tinggi (high end), mulai dari desain eksterior, kualitas interior, pemilihan mesin baru dengan teknologi terbaru, serta fitur kenyamanan, keselamatan dan keamanan yang jauh lebih lengkap.

Secara fisik, All New Rush memang lebih bongsor dibanding generasi sebelumnya, karena panjang totalnya bertambah 230mm (menjadi 4.435mm). Meski begitu, Toyota tetap mengusung platform lama dengan mempertahankan lebar total 1.685mm, tinggi 1.705mm dan wheelbase 2.685mm seperti Rush model terdahulu.  Sementara ground clearance juga bertambah tinggi 20mm (2cm), membuat tampilannya terkesan lebih jangkung.

Secara keseluruhan, tampilan baru Rush ini mengingatkan saya pada sosok Honda CR-V generasi keempat, dengan fascia depan beraroma Toyota Fortuner tipe VRZ dan Grand New Avanza. Grille besar model empat bilah horizontal berkelir dark chrome itu mirip punya Toyota Fortuner terbaru, sedangkan lampu utama yang kini berdesain pipih dengan tambahan LED reflector dan DRL (LED Positioning lamp) mirip dengan milik Honda CR-V generasi keempat.  Ini untuk pertama kalinya Toyota menyematkan LED dengan menggunakan sistem reflektor. Lampu LED diletakkan tersembunyi di bagian atas reflektor dan memantulkan sinarnya ke reflektor.  Sebelumnya, Toyota mengaplikasikan model proyektor untuk memendarkan cahaya LED.

Sementara lampu kabut (fog lamp) berbentuk bulat, dengan – ini yang menarik – cover plastik berwarna hitam, mirip cover fog lamp Toyota-Astra Calya. Toh aksentuasi sederhana ini lumayan mampu membuat wajah All New Rush lebih kekar. Selain itu, kap mesin alias bonnet Rush terbaru juga berubah total, dengan sejumlah lekukan yang membuatnya terlihat ‘berotot’. Yang jelas, spion ‘tanduk’ pada Rush terdahulu kini absen. All New Rush hanya mengandalkan spion samping electronic retractable  dengan lampu sein LED.

Underguard depan TRD yang kokoh mendominasi tampilan depan varian TRD Sportivo, mencuatkan kesan tangguh di segala medan jalan.

Tapi yang perubahan yang paling terlihat justru terlihat di bagian belakang. Buritan All New Rush kini tak lagi ada ban serep model ‘konde’ yang menggantung di pintu belakang. Ban serep pindah ke bawah lantai bagasi, seiring bertambahnya panjang overhang belakang sebanyak 170mm (17cm) dan melarnya ruang bagasi sepanjang 150mm (15cm). Hilangnya ban serep ‘konde’ membuat pintu bagasi bisa dibuka ke atas, dan tentu saja lebih praktis untuk bongkar-muat barang.

Ini bisa jadi merupakan berita buruk bagi para ‘petrolhead’ puritan penggila SUV sejati, karena ban serep model ‘konde’ dianggap sebagai presentasi sekaligus menjadi simbol tak tertulis sebuah ‘real SUV’. Sebaliknya, hilangnya ‘konde’ — yang selama ini menjadi ciri khas Rush-Terios — menjadi jawaban yang ditunggu-tunggu kaum pecinta urban SUV yang lebih suka main ke mall atau nongkrong di café ketimbang melaju di jalur ‘country road’.

Secara keseluruhan, bagian belakang juga berubah total, mulai dari lampu belakang kombinasi lebih pipih dan bersudut tajam yang terintegrasi dengan LED, roof spoiler belakang dengan antena model sirip hiu (shark fin), serta bumper kekar yang menambah kesan tangguh sebuah SUV. Polesan aksen hitam pada bumper belakang juga mempertegas unsur toughness medium SUV andalan Toyota ini. Pada varian TRD Sportivo, bagian buritan ini dilengkapi underguard Journey TRD yang menyatu dengan bumper belakang.

Lampu belakang kombinasi yang lebih pipih dan bersudut tajam, terintegrasi dengan LED – Seluruh varian

Spoiler belakang, dengan antena model sirip hiu (shark fin)

Bagian buritan varian TRD Sportivo dilengkapi underguard Journey TRD yang menyatu dengan bumper belakang.Bergeser ke samping,  guratan garis yang melandai mulai dari belakang windscreen hingga atap belakang makin mirip desain Honda CR-V generasi keempat, namun dengan jendela samping paling belakang seperti mencomot punya Toyota Astra Calya. Jika Anda pertegas lagi, bagian samping ini sepertinya mengadopsi desain mobil konsep Daihatsu FT. Garis desain pada bagian bawah jendela memberi kesan kokoh, sementara garis desain bagian sampingnya mencuatkan kesan dinamis. Pada varian TRD Sportivo, ada tambahan lis krom di kaca jendela samping. O ya,di bagian atas juga sudah tersedia roof rail sebagai fitur standar All New Rush.

Di bagian bawah, kaki-kaki All New Rush kini dibekali velg alloy berdesain baru, dengan 10-palang (spoke) model kipas dan finishing two-tone. Ada perbedaan desain dan ukuran antara velg yang digunakan varian G dan varian TRD Sportivo. Meski sama-sama mengusung velg alloy model kipas dengan 10-spoke dan finishing two-tone, velg varian G berukuran 16 inci, sedangkan untuk tipe TRD Sportivo berukuran dan velg 17inci. Sayangnya, entah kenapa Toyota hanya membekali ban Dunlop Enasave yang terkesan ‘kodian’ untuk kedua tipe All New Rush.

Velg alloy ukuran 17inci dengan desain baru model kipas dalam laburan kelir two-tone pada tipe TRD Sportivo

Velg alloy ukuran 16inci dengan desain baru model kipas two-tone pada tipe G

 

HIGHLIGHT
Plus (+)
  • Desain eksterior
  • Desain interior
  • Kabin - real SUV 7-seater
  • Fitur safety dan security
  • Handling (pengendalian)
Minus (-)
  • Transmisi otomatis 4-speed
  • Kemudi belum belum telescopic steering
  • Foot rest yang sempit
  • Pilar A tebal, mengganggu visibilitas ke samping kanan

Kesempatan menjajal langsung Toyota All New Rush akhirnya datang juga, setelah PT. Toyota-Astra Motor (TAM) mengajak saya dan beberapa rekan jurnalis lainnya untuk menjelajahi tanah Parahyangan selama dua hari (17-18 Januari 2018) dengan rute Purwakarta, Subang, Bandung dan kembali ke Jakarta. Dengan tema Discover Your Freedom, TAM memberikan kebebasan kepada para jurnalis untuk menguji performa real SUV Toyota di segmen medium ini, melalui perjalanan yang cukup panjang dan melewati berbagai kondisi jalan-jalan termasuk dataran tinggi pegunungan. Rute yang menghubungkan kota Purwakarta, Subang, dan Bandung memang menyajikan beragam kondisi jalan, mulai dari jalan tol, jalan raya perkotaan dan jalan arteri yang traffic-nya cukup padat, serta berkontur menanjak dan turun.

Berada di dalam kabin All New Rush memang bukan kali pertama ini, namun inilah pertama kalinya saya berada di belakang kemudi All New Rush yang melaju di jalan raya. Satu kalimat saja, interior All New Rush ini benar-benar baru! Tak terlihat lagi sisa-sisa identitas interior Rush model lama. Toyota menyebut konsep desain interior All New Rush dengan istilah Premium Tough Feeling, untuk memberikan kenyamanan di kabin bagi seluruh penumpang serta pengemudi, dengan posisi duduk yang ergonomis, serta dashboard yang dekat dengan pengemudi dan mudah dijangkau.

“Interior All New Rush memang didesain untuk menunjang kebutuhan pengemar SUV yang berkarakter dinamis. Mereka tidak hanya butuh sensasi sporty, tapi juga ruang interior yang luas, termasuk untuk bagasi,” kata Henry Tanoto, Vice President Director PT Toyota-Astra Motor.

Secara keseluruhan, kabin Toyota All New Rush memang memang menawarkan ruang yang lebih lega ketimbang model sebelumnya, meski tak terlalu signifikan. Peningkatan pada panjang overhang belakang All New Rush berdampak pada kabinnya yang kini memang didesain untuk mengakomodasi 7 penumpang melalui tiga baris bangku plus tambahan volume bagasi.

Toyota mengklaim kabin  All New Rush benar-benar didesain dengan konsep “True 7 Seater SUV”. Jarak antara bangku baris kedua dan bangku baris ketiga mencapai 700mm (70cm), sehingga ruang kaki (leg room) untuk penumpang baris ketiga kini jauh lebih lega dibanding Rush model sebelumnya. Sementara bagasinya kini menjadi lebih panjang 150mm (menjadi 450mm) dibanding model sebelumnya, menyisakan ruang penyimpanan yang lebih luas.

 

Untungnya, bangku-bangku All New Rush dibikin cukup tebal, mengingatkan saya pada bangku milik Toyota Grand New Veloz dengan side support dan bahan fabric.

Bangku baris kedua didesain untuk mengakomodasi tiga penumpang, karena telah dilengkapi tiga headrest yang proper. Selain mengatur ulang penempatannya, sepertinya Toyota juga sedikit memperkecil ukuran jok baris kedua ini. Buat saya yang berpostur hanya 165cm, terasa lebih lega memang – Toyota mengklaim ruang kaki penumpang baris kedua bertambah 45mm (4,5cm), apalagi joknya bisa digeser maju-mundur untuk mengakomodasi ruang kaki bagi penumpang di baris ketiga.

Tak seperti Rush generasi pertama, Toyota mendesain ketiga baris bangku All New Rush model teater, makin ke belakang makin tinggi. Bangku baris kedua dan ketiga kini lebih tinggi dari sebelumnya, dan ini mampu mengurangi terpicunya gejala ‘mabuk darat’ bagi penumpang. Namun sebagai konsekuensinya  -- lebih-lebih dengan desain atap yang melandai ke belakang, ruang kepala di bangku baris kedua dan ketiga ikut terpangkas, dengan visibilitas ke depan bagi penumpang belakang terganggu oleh AC double blower model lawas yang ukurannya cukup besar Masih cukup lega buat penumpang berpostur seperti saya, namun pasti hanya menyisakan sedikit ruang kepala bagi penumpang dengan tinggi 175cm ke atas. Apalagi jika Anda duduk di bangku paling belakang.

[caption id="attachment_7634" align="alignnone" width="700"] Bangku baris kedua pada tipe TRD Sportivo[/caption]

[caption id="attachment_7635" align="alignnone" width="700"] Bangku baris ketiga pada tipe TRD Sportivo. Semua tipe All New Rush juga telah dibekali head rest.[/caption]

Yang cukup menarik buat saya adalah sistem pelipatan ‘one touch tumble’  pada bangku baris kedua. Amat praktis. Anda tinggal menarik tuas pengatur yang ada di sisi bawah jok baris kedua, maka jok akan terlipat secara otomatis, menghasilkan akses mudah ke dan dari bangku baris ketiga. Bahkan, seorang anak kecil pun dengan gampang melakukannya. Sayangnya pelipatan bangku baris ke-3 hanya menggunakan konfigurasi 50-50, tak memungkinkan untuk dilipat serata lantai.

[caption id="attachment_7637" align="alignnone" width="700"] Bagasi lebih panjang dari Rush terdahulu, namun tetap saja terbatas.[/caption]

[caption id="attachment_7655" align="alignnone" width="700"] Posisi ban serep kini pindah ke bawah lantai bagasi.[/caption]

Hilangnya ban serep model ‘konde’ pada Rush generasi sebelumnya memang membuat bagasi All New Rush menjadi lebih panjang 150mm (menjadi 450mm). Secara volume, bagasi All New Rush juga lebih besar karena ban serep kini ditempatkan di kolong lantai bagasi. Tapi, tetap saja bagasi Rush generasi kedua ini masih terbatas. Dengan posisi semua sandaran bangku baris ketiga dalam keadaan tegak, ruang bagasi hanya tersisa sedikit saja, kira-kira selebar diameter galon air mineral.

O ya, untuk membuka ban serep, Anda membutuhkan ‘special tools’ berupa tuas pemutar berujung kait yang ditempatkan di bawah kursi penumpang depan. Selanjutnya, tinggal colok tuas ini melalui lubang di tengah bumper belakang dan kaitkan ujungnya di pembuka ban serep dan putar ke arah kiri (berlawanan arah jarum jam) untuk menurunkan ban serep.

[caption id="attachment_7636" align="alignnone" width="700"] Ruang bagasi cukup lega dengan bangku baris ketiga dilipat[/caption]

Di luar akomodasi, saya harus memuji upaya Toyota melengkapi kabin All New Rush dengan berbagai fitur kenyamanan yang membuatnya pantas disebut sebagai ‘family SUV’. Sejujurnya, saya bahkan agak kaget melihat ‘keroyalan’ Toyota Indonesia dalam urusan kelengkapan (fitur) bagi All New Rush, mengingat harganya yang sama sekali tak mengalami kenaikan dari model sebelumnya. Bahkan untuk varian 1.5 TRD Sportivo A/T, harganya lebih rendah Rp 3 juta!

Unit test drive tipe TRD Sportivo bertransmisi otomatis (A/T) yang saya kendarai ini misalnya, telah dibekali lingkar kemudi yang benar-benar baru, dengan 3-spoke dan balutan kulit untuk tipe TRD Sportivo. Sedikit mirip lingkar kemudi Toyota Agya, dengan bentuk membulat di tengah setir, namun terlihat lebih mewah dan modern dengan garnish berwarna silver, pengaturan audio (audio steering switch control), serta pengaturan telepon untuk tipe TRD Sportivo. Sementara panel di doortrim kini juga tampil lebih mewah dengan bahan softtouch berwarna putih.

[caption id="attachment_7638" align="alignnone" width="700"] Panel dashboard All New Rush juga berubah total dari pendahulunya, kini tampil lebih modern dan mewah dengan warna two-tone. Pada tipe TRD Sportivo, ada tambahan soft-touch berkelir putih di bagian bawah.[/caption]

Panel dashboard All New Rush juga berubah total dari pendahulunya, kini tampil lebih modern dan mewah dengan warna two-tone. Khusus pada tipe TRD Sportivo, ditambahkan sentuhan bahan soft-touch berwarna putih di sisi bawah dashboard, dengan lis berwarna silver yang memisahkan bagian soft-touch dan dashboard bagian atasnya. Material soft-touch yang sama juga disematkan pada arm rest di door trim bangku baris pertama dan kedua pada tipe TRD Sportivo. Tapi soal material soft touch ini, terutama yang ada di dashboard, seperti hard plastic yang langsung dibalut kulit tanpa padding. Coba saja Anda pencet, bagian bawah soft top terasa keras. Mirip lapisan tripleks yang dibalut kulit.

Konsol tengahnya juga sederhana, dengan overhead console box yang sayangnya hanya ada pada tipe TRD Sportivo. Sedangkan pada tipe G hanya tersedia tempat penyimpanan yang mengakomodir tiga cup holder, tempat kaca mata dan juga map lamps. Secara keseluruhan, SUV medium Toyota ini menyediakan 13 cup holder yang tersebar dari bangku pertama hingga bangku ketiga. Itu termasuk laci di doortrim yang bisa mengakomodir dua botol minuman dan menyisakan ruang untuk menyimpan barang-barang kecil dan majalah.

[caption id="attachment_7639" align="alignnone" width="700"] Dua cup holder dan tempat penyimpanan di door trim - tipe TRD Sportivo.[/caption]

[caption id="attachment_7640" align="alignnone" width="700"] Concole box pada tipe TRD Sportivo.[/caption]

[caption id="attachment_7641" align="alignnone" width="700"] Cup holder dan power outlet untuk bangku baris kedua ada di belakang console box.[/caption]

Semua tipe All New Rush dilengkapi sistem pendingin udara (AC) dengan double blower, meski masih model lawas, luamayan mampu membuat  aliran suhu dingin dari depan ke belakang lebih merata dan nyaman. Berita baiknya, pengaturan AC yang berbentuk dua tombol putar kini telah menggunakan layar digital yang memiliki fungsi otomatis pada tipe TRD Sportivo -- pada tipe G hanya dibekali sistem memori yang dapat menyimpan 2 pengaturan.

[caption id="attachment_7642" align="alignnone" width="700"] Double blower AC model lawas yang ukurannya cukup memakan tempat.[/caption]

[caption id="attachment_7643" align="alignnone" width="700"] AC Digital dengan pengaturan Auto pada tipe TRD Sportivo.[/caption]

Kesan modern yang lebih mewah juga mencuat lewat tampilan panel transmisi yang dilabur warna bezel dengan kombinasi kelir abu-abu gelap senada dashboard.  Sementara pegangan tuas transmisi (shift knob lever) model gate pada varian otomatis dibungkus material kulit berwarna hitam, cukup ergonomis dan mudah dijangkau.

Toyota juga membekali All New Rush dengan panel instrumen kombinasi berdesain baru yang jauh lebih sporty. Instrument cluster yang didominasi oleh speedometer dan tachometer – meski masih model analog -- berbentuk bulat dengan latar belakang warna biru-putih ini terlihat sporty sekaligus elegan ketika dipadukan dengan layar digital LCD MID multy colour (menampilkan indikator bahan bakar, jam digital, posisi gigi transmisi, suhu di luar kabin, odometer, dan eco indicator berupa bar yang akan menunjukkan efisien penggunaan bahan bakar ketika dikendarai) yang ditempatkan tepat di tengahnya.

[caption id="attachment_7645" align="alignnone" width="700"] Panel instrumen kombinasi berdesain baru, dengan layar digital LCD MID multy colour di antara tachometer dan speedometer.[/caption]

Untuk memberikan kenyamanan lebih, All New Rush juga dibekali dengan tiga ACC Connector untuk tipe TRD Sportivo yang terletak di bagian depan, bangku baris kedua, dan bangku baris ketiga. Sedangkan untuk tipe G, ACC Connector diposisikan hanya di bagian depan. Selain itu, semua varian All New Rush dilengkapi tombol engine start-stop yang mempermudah Anda menghidupkan mesin. Pada tipe TRD Sportivo, fitur modern ini bahkan dilengkapi pula dengan smart entry key.

[caption id="attachment_7646" align="alignnone" width="700"] Seluruh varian telah dibekali fitur start-stop engine yang modern.[/caption]

[caption id="attachment_7647" align="alignnone" width="700"] Smart key hanya ada pada tipe TRD Sportivo.[/caption]

Sebagai sarana hiburan di dalam kabin, Toyota juga melakukan pembaruan pada fitur entertainment All New Rush. Kini, sistem audionya dilengkapi head unit DVD AVX dengan layar ukuran 7inci yang didukung surround audio system 8 speaker untuk tipe TRD Sportivo dan 6 speaker untuk tipe G. Fitur entertainment ini dilengkapi dengan USB, Bluetooth, Ipod/Iphone Connect, Physical Remote, HDMI, dan Miracast pada kedua tipe. Bedanya, pada tipe TRD Sportivo ada tambahan WeblinkSupport Multitasking dan Smart Phone Remote App.

[caption id="attachment_7648" align="alignnone" width="700"] Head unit DVD AVX dengan layar ukuran 7inci yang didukung surround audio system 8 speaker untuk tipe TRD Sportivo -- untuk tipe G hanya 6 speaker.[/caption]

Sistem multimedia Weblink (Weblink Host) pada tipe TRD Sportivo pada dasarnya merupakan koneksi ponsel ke sistem audio mobil dengan menggunakan perangkat USB. Bukan hanya menghubungkan data, Weblink juga sekaligus menghubungkan internetnya.  Weblink memiliki kemampuan untuk menjalankan sejumlah fungsi pada smartphone yang berbasis sistem operasi Android dan iOS. Cukup dihubungkan melalui kabel data USB yang plug & play dengan driving restriction seperti Android Auto dan Car Play, Anda bisa langsung menjalankan fitur Weblink Host ini. Selanjutnya, audio mobil dan smartphone Anda akan saling terkoneksi dan Anda bisa langsung menjalankan beberapa aplikasi, seperti waze dan web browser. Pada Android, fitur ini berfungsi dua arah, memungkinkan Anda menjalankan beberapa aplikasi baik melalui layar smartphone maupun layar multimedia. Sementara, dalam waktu yang bersamaan USB juga akan mengecas baterai smartphone Anda.

Tapi, buat saya, kejutan paling ‘indah’ dari Toyota yang ditawarkan pada All New Rush adalah deretan fitur keselamatannya (safety) yang kini jauh lebih lengkap dan modern. Boleh dibilang, paling lengkap di kelasnya. Dan, beginilah seharusnya kelengkapan safety untuk sebuah SUV yang diklaim berada di segmen medium.

Lihat saja, semua tipe All New Rush kini tersedia 6 SRS airbag (kantong udara) yang terdiri dari dual SRS airbag, side airbag, dan curtain airbag untuk melindungi pengemudi dan penumpang dari depan dan samping. Side airbag ditempatkan di bagian samping kursi depan untuk melindungi penumpangnya dari tabrakan pada bagian samping. Sementara curtain airbag berada di bagian pilar A dan C.

Selain itu, fitur keselamatan pasif lainnya mencakup pula sabuk pengaman (seat belt) tiga-titik di ketujuh bangku penumpang, yang masing-masing telah dilengkapi head rest.

[caption id="attachment_7649" align="alignnone" width="700"] Total ada 6 airbag bagi penumpang depan dan belakang.[/caption]

Sedangkan deretan fitur keselamatan aktif yang dimiliki All New Rush kini mencakup Vehicle Stability Control (VSC) dan Traction Control (TC), Anti-Lock Braking System (ABS), Electronic Brake Force Distribution (EBD), Hill Start Assist (HSA), kamera parkir mundur, Emergency Stop Signal (ESS), dan indikator pengingat sabuk pengaman (seat belt indicator warning) bagi seluruh penumpang.

Fitur yang disebut terakhir ini memang cukup menarik. Pada mobil-mobil modern, fitur seat belt indicator warning berupa lampu indikator yang menyala dan bunyi peringatan umumnya hanya tersedia untuk untuk kedua kursi depan saja, jika pengemudi atau penumpang depan tidak menggunakan seat belt. Namun pada Rush baru, fitur ini berfungsi untuk seluruh penumpang di bangku baris pertama hingga baris ketiga.

O ya, tak seperti untuk bangku paling depan, seat belt indicator warning untuk kursi baris kedua dan baris ketiga hanya akan aktif (lampu indikator menyala disertai bunyi peringatan) jika seat belt telah terpasang terlebih dahulu. Dengan kata lain, seat belt indicator warning tidak akan menyala jika sejak awal Anda memang tidak memasang seat belt.

[caption id="attachment_7650" align="alignnone" width="700"] Seat belt indicator warning untuk seluruh kursi penumpang.[/caption]

Fitur baru lainnya yang menarik adalah Emergency Brake Signal (EBS). Cukup fungsional dalam pengendaraan sehari-hari, karena EBS secara otomatis akan menyalakan lampu hazard Anda melakukan pengereman mendadak. Nyalanya lampu hazard menjadi peringatan bagi kendaraan di belakang Anda untuk mengantisipasi pengereman yang sama, sehingga lebih berpeluang mencegah terjadinya tabrakan beruntun.

[caption id="attachment_7651" align="alignnone" width="700"] Emergency Brake Signal (EBS) – pada semua tipe[/caption]

Lalu, ini salah satu fitur modern baru, Hill Start Assist (HSA) pada varian All New Rush bertransmisi otomatis. Sangat berguna, karena fitur Hill-start Assist Control (HAC) yang bekerja secara otomatis selama gear transmisi berada pada posisi maju ini mencegah kendaraan melorot ke belakang, ketika Anda berhenti di tanjakan. Sistem akan menahan rem selama tiga detik setelah kaki Anda melepas pedal rem, memberi cukup waktu bagi kaki Anda berpindah untuk menginjak pedal gas dengan santai tanpa perlu khawatir mobil bergulir mundur sebelum melaju. Saya sempat mengujinya beberapa kali di beberapa tanjakan curam pada rute Subang-Lembang-Bandung.

[caption id="attachment_7652" align="alignnone" width="700"] Fitur keselamatan Hill-Start Assist (HSA) ada pada semua tipe.[/caption]

Terakhir, masih ada fitur ‘kekinian’ yang disematkan Toyota pada All New Rush: Kamera belakang dan sensor parkir! Kedua fitur ini telah menjadi fitur standar pada semua tipe All New Rush. Sayangnya, tampilan gambar dari kamera belakang/kamera parkir di layar monitor tak dilengkapi guide line yang membantu pengemudi menentukan jarak lebih presisi ketika parkir.

[caption id="attachment_7653" align="alignnone" width="700"] Tampilan kamera belakang/kamera parkir tanpa guide line[/caption]

BERADA di balik kemudi All Ne

w Rush TRD Sportivo bertransmisi otomatis mulai dari kota Subang hingga Bandung, lumayan memberi kesempatan untuk mengeksplorasi seluruh performa SUV medium andalan Toyota ini. Rute Subang-Bandung memang cukup menantang, karena menyajikan beragam kondisi jalan, mulai dari jalan arteri yang sempit dengan lalulintas padat hingga jalur ‘twisty’ dengan tanjakan dan turunan curam sepanjang Ciater-Lembang-Bandung.

[caption id="attachment_7664" align="alignnone" width="373"] Kemudi semua tipe telah dilengkapi fitur Tilt Steering. Meski tanpa telescopic steering, fitur ini sangat mendukung untuk memperoleh posisi pengemudi yang paling sesuai[/caption]

Buat saya yang terbiasa mengendarai SUV dan jip, driving position All New Rush rasanya tak terlalu ‘commanding’ dibanding Rush generasi pertama. Dari belakang kemudi, rasa SUV-nya melalui visibilitas ke depan maupun ke samping – apalagi  ke belakang -- sedikit cair, meski posisi duduk tetap terasa tinggi. Rasanya lebih mirip berada di balik kemudi sebuah MPV ketimbang SUV. Tapi ‘feel’ seperti ini sepertinya memang lebih cocok bagi penyuka ‘urban SUV’ yang lebih sering melahap lalulintas perkotaan.

Toh posisi duduk cukup nyaman, apalagi jok pengemudi dan kemudi yang telah dibekali fitur tilt steering bisa dinaik-turunkan untuk memperoleh posisi mengemudi paling ideal. Penempatan tuas transmisi, rem tangan, dan berbagai tombol kontrol di dashboard juga cukup ergonomis, semua berada dalam jangkauan tangan pengemudi. Satu-satunya yang agak mengganggu kenyamanan adalah ruang foot rest yang sempit. Kaki kiri saya terasa mentok di tonjolan dashboard bagian bawah, ketika bersandar di foot rest. Apalagi pada All New Rush varian bertransmisi manual, telapak kaki kiri cepat terasa pegal karena harus sedikit menekuk ketika menginjak pedal kopling.

Dibanding Rush generasi sebelumnya, steering (pengemudian) All New Rush terasa jauh lebih ringan, dengan electronic power steering (EPS) yang memberi ‘feel’ mirip-mirip punya Toyota Veloz. Sedikit kaku, memang, tapi masih ringan dengan feedback lumayan presisi. Radius putar kemudinya kini lebih lebar (menjadi 5,2meter) dibanding Rush generasi sebelumnya (4,9meter), mungkin untuk mengakomodasi body All New Rush yang lebih bongsor. Meski radius putar lebih lebar, di area parkir justru terasa ban All New Rush bisa berbelok lebih patah – padahal lock-to-lock kemudinya masih sama seperti model terdahulu.

Dari balik kemudi, visibiltas ke samping kanan agak terganggu (blind spot) oleh pilar A yang cukup tebal, terutama ketika berbelok ke kanan. Visibiltas pengemudi ke arah lainnya tergolong bagus, termasuk pandangan ke belakang, meski desain atap All New Rush  yang melandai membatasi ukuran jendela belakang.

Sepanjang perjalanan, baik sebagai penumpang di baris kedua maupun sebagai pengemudi, peredaman di dalam kabin All New Rush menurut saya lebih senyap ketimbang model lamanya atau dari sejawatnya, seperti Avanza dan Xenia. Noise dari mesin (engine noise) memang masih cukup terasa menembus kabin, terutama saat kickdown, namun jauh berkurang ketika cruising hingga kecepatan 70km/jam. Begitu pula dengan noise dari kolong yang berasal dari transmisi dan gardan. Tapi wind noise dari luar jauh berkurang dibandingkan pada Rush generasi pertama. Yang menyebalkan justru suara klakson, pantulannya seperti ditempatkan di dalam kabin.

Kesimpulannya, sistem peredaman All New Rush memang mengalami perbaikan di beberapa tempat, terutama di sektor firewall, bonnet (kap mesin), dan pintu-pintu. Secara keseluruhan, kabin All New Rush bertransmisi otomatis ini lebih senyap ketimbang Rush pendahulunya yang bertransmisi sama, namun tidak signifikan. Setidaknya, hasil pengujian kekedapan kabin yang dilakukan Toyota memperlihatkan itu. Pada kecepatan konstan 40km/jam, kabin Rush AT terbaru ini lebih senyap 5 dB (decibel) dari New Rush AT pendahulunya. Lalu pada kecepatan konstan 80km/jam lebih senyap 6,3 dB, dan saat crusing dengan kecepatan konstan 100km/jam lebih senyap 8,4 dB dari Rush AT generasi pertama.

Keluar dari kota Subang, jalan aspal yang dilalui cukup mulus namun relatif sempit dan dipadati kendaraan roda dua serta truk. Sulit mencari kesempatan untuk menguji performa mesin baru tipe 2NR-VE -- sama seperti yang digunakan Grand New Avanza -- di balik bonnet (kap mesin) baru All New Rush yang lebih berotot. Menggantikan mesin lama 3SZ-VE berkapasitas sama, mesin 2NR-VE 4-silinder segaris berkapasitas 1.496cc (1,5liter), DOHC, Dual VVT-i ini diklaim mampu meletupkan tenaga 104PS (103hp) pada 6.000rpm dan torsi puncak 136Nm pada 4.200rpm yang mencukupi untuk perjalanan urban serta melahap jalur luar kota.

Sekadar catatan saja, mesin 2NR-VE memiliki basis yang sama dengan mesin 2NR-FE – digunakan pada Toyota All New Sienta -- produksi pabrik anyar Toyota Indonesia di Karawang, Jawa Barat. Sementara mesin 2NR-VE dikembangkan dan diproduksi di pabrik Daihatsu Indonesia. Bedanya, mesin All New Sienta dipasang melintang (tranversal) menghadap ke depan untuk mengakomodasi sistem penggerak roda- depan (FWD), sedangkan All New Rush (juga Avanza) dipasang membujur (longitudinal) menghadap ke belakang, mengingat penggeraknya adalah roda belakang (RWD). Selain itu, bobot mesin 2NR-VE yang masih menggunakan material utama besi baja biasa ini juga lebih berat dibanding mesin 2NR-FE yang menggunakan aluminium sebagai material utama.

Di atas kertas, performa mesin 2NR-VE bukan hanya sedikit lebih rendah dibandingkan kembarannya, 2NR-FE, tetapi bahkan juga dari mesin 3SZ-VE yang bertenaga 109PS dan torsi 141Nm milik pendahulunya. Tapi ingat, bagaimanapun mesin 2NR-VE lebih modern, apalagi didukung teknologi Dual VVT-I membuat performa All New Rush diklaim lebih efisien sekitar 20% dalam pemakaian bahan bakar, dengan tenaga yang sangat memadai.

Benarkah? Secara umum, mesin 2NR-VE memang terasa lebih halus dibandingkan mesin 3SZ-VE pendahulunya. Meski begitu, menurut saya, letupan torsinya di putaran bawah (rpm rendah) tidak seresponsif pendahulunya, terutama ketika berakselarasi. Sebagai ‘imbalannya’, pengendaraan All New Rush menjadi lebih halus, tidak menyentak-nyentak seperti Rush generasi sebelumnya. Dengan kata lain, karakter mesin – plus kombinasi dengan rasio gear transmisi dan final gear gardan belakang -- All New Rush membuatnya jauh lebih nyaman untuk pengendaran ‘stop-and-go’ di lalulintas perkotaan yang padat. Dalam hal ini, saya harus akui Toyota berhasil menjadikan All New Rush jauh lebih ‘urban SUV’ ketimbang pendahulunya.

Mesin 2NR-VE justru terasa lebih enak untuk cruising di kecepatan 100-120km/jam, karena mesin hanya perlu meraung di kisaran 3.000rpm. Ini sepertinya memang menjadi karakter engine seri 2NR, yang power-nya baru terasa di putaran atas. Bandingkan dengan mesin lama 3SZ yang terasa tersengal-sengal di putaran atas, dengan mesin meraung di 4.000rpm ke atas ketika cruising di kecepatan 100km/jam.

Saya justru kurang suka dengan performa transmisi otomatisnya yang hanya dibekali empat tingkat kecepatan alias 4-speed. Ketika melakukan ‘kickdown’ untuk menyalip kendaraan lain, ada gejala tertahan cukup lama di gear rendah, membuat mesin ‘menggerung’ namun akselerasi cenderung ‘bolot’. Apalagi di tanjakan panjang dan curam. Jujur saja, saya selalu ketar-ketir setiap kali mencoba ‘overtaking’ kendaraan lain di sepanjang rute Ciater-Tangkuban Perahu-Lembang yang didominasi jalan berkelak-kelok dengan tanjakan panjang dan curam. Perkiraan saya, selain karena jarak rasio antar-gear yang panjang/jauh – maklum, hanya 4-speed -- gejala ini juga timbul sebagai konsekuensi untuk mengkompensasi lemahnya torsi dari mesin 2NR-VE di putaran rendah.

Saran saya, sebaiknya pastikan dulu situasi lengang dari kendaraan yang berlawanan arah ketika Anda hendak melakukan ‘overtaking’, terutama di tanjakan panjang. Atau, dalam kondisi terpaksa, boleh juga melakukan ‘doubel kickdown’ untuk mendapatkan akselerasi yang lebih baik saat ‘overtaking’. Sekarang, saya cuma bisa berharap Toyota akan menawarkan transmisi otomatis 5-speed yang lebih ideal buat All New Rush.

Bagaimana dengan varian bertransmisi manual? Jauh lebih smooth dibanding Rush sebelumnya. Perpindahan antar-gear juga tergolong halus, dengan kopling cukup enteng, mirip milik Grand New Avanza. Perpindahan giginya tidak terlalu ‘long thrown’ seperti pada Toyota Kijang Innova lama (sebelum All New Kijang Innova), tapi juga tak sehalus shifter-shifter mobil Honda pada umumnya – bahkan, cenderung sedikit kasar untuk masuk giginya. Sejujurnya, saya lebih suka karakter transmisi manual 5-speed All New Rush ini ketimbang varian otomatisnya. Delivery tenaga dan torsinya terasa pas di setiap gear/gigi, jauh lebih meyakinkan ketika melakukan overtaking maupun cruising di jalur bebas hambatan.

Sejauh ini tak ada klaim resmi dari Toyota mengenai konsumsi bahan bakar All New Rush. Toyota hanya menyebut mesin baru 2NR-VE mampu membuat konsumsi BBM All New Rush lebih irit sekitar 20 persen dalam pemakaian normal. Namun dari hasil pencatatan MID di sepanjang rute Purwakarta-Subang-Bandung menunjukkan kisaran 9 – 10,9km/liter.

Sebagai SUV yang mengusung chassis body-on-frame alias ladder frame dengan sistem penggerak roda-belakang (RWD) gardan solid, Toyota Rush berada di bawah rival-rivalnya yang berangka unibody (monokok) dengan penggerak roda-depan (FWD) dalam soal ride and handling (pengendaraan dan pengendalian). Kalah nyaman! Tapi di sisi lain, platform body-on-frame dengan RWD jauh lebih tangguh, daya angkut beban lebih baik, dan durabilitasnya lebih lama.

Toyota tak tergoda untuk mengubah platform Rush generasi kedua ini dengan basis monokok dan gerak roda-depan (FWD), meski ia kini didesain menjadi lebih ‘urban’ dan stylish. All New Rush tetap mempertahankan platform lama, dengan mencomot chassis Rush generasi pertama sebagai basisnya. Bedanya, bagian belakang chassis Rush generasi kedua ini dibuat lebih panjang untuk mengakomodasi melarnya body belakang, meski wheelbase tak berubah dari pendahulunya. Selain itu, Toyota juga melakukan reinforcement (penguatan) pada beberapa titik di rangka untuk meningkatkan kekakuannya.

Jadi, fokus yang dilakukan Toyota terhadap All New Rush adalah memperbaiki ride and handling-nya, agar tak terlalu ketinggalan dalam urusan kenyamanan pengendaraan dari para rivalnya yang berbasis platform monokok-FWD. Basis suspensi masih serupa, model strut dengan stabilizer di bagian depan dan 5-link dengan stabilizer di bagian belakang. Bedanya, Toyota mengubah sudut suspensi pada All New Rush untuk memperbaiki handling-nya. Sedangkan di bagian belakang, kini dibekali tambahan stabilizer bar  untuk mengurangi gejala limbung.

Hasilnya? Bantingan atau ayunan suspensi sekarang sedikit lebih empuk dibandingkan suspensi Rush lama, tapi tetap tergolong kaku. Di dalam kabin, pengemudi dan penumpang tak lagi ‘mumbul’ ketika mobil melibas gundukan atau jalan kasar dan berlubang. Berita baiknya, setingan baru pada suspensi All New Rush berhasil mengurangi gejala limbung ketika bermanuver di tikungan tajam dalam kecepatan sedang hingga tinggi, meski ground clearance SUV Toyota ini lebih tinggi 20mm (2cm) dari saudara tuanya. Jauh lebih stabil ketimbang Rush lama yang cenderung ‘melayang’ ketika digeber pada kecepatan 90-100km/jam, atau bahkan Toyota Veloz. Saya suka bagian ini.

O ya, banyak yang bilang minimnya gejala limbung pada All New Rush berkat aplikasi fitur keselamatan aktif Vehicle Stability Control (VSC) dan Traction Control System (TCS atau TC) yang disandangnya. Sebetulnya, baik VSC maupun TC tak berpengaruh pada gejala limbung (rollover), karena kedua fitur ini pada dasarnya hanya mencegah dan mengurangi kemungkinan kendaraan kehilangan traksi roda pada permukaan jalan. Khusus untuk mencegah atau mengurangi terjadinya ‘rollover’ (limbung atau terguling), ada fitur khusus bernama ARP (Active Rollover Protection), bukan VSC ataupun TC.

VSC sendiri sebenarnya befungsi untuk menjaga kendaraan agar tetap stabil dan mengikuti jalurnya, ketika menikung atau berpindah jalur, dengan mengurangi gejala understeer (pada kendaraan RWD) atau oversteer (pada kendaraan FWD).

Sistem akan secara otomatis membantu pengurangan tenaga mesin ketika terjadi gejala kehilangan traksi (selip) pada salah satu roda yang menyebabkan mobil tergelincir ke arah luar dari tikungan -- biasanya terjadi pada saat menikung. Pada saat yang sama, sistem akan melakukan pengereman pada masing-masing roda yang membutuhkannya, untuk membantu mengarahkan mobil tetap di jalur yang dikehendaki pengemudi. Dengan begitu, pengemudi masih tetap bisa mengontrol kendaraan secara aman. Fitur ini penting terutama di jalanan licin dan berliku yang berpotensi memicu terjadinya gejala understeer atau oversteer. Dua gejala ini sangat berbahaya, karena dapat membuat mobil bergerak ke jalur lain atau ke luar jalan, sehingga potensial menyebabkan kecelakaan.

[caption id="attachment_7670" align="alignnone" width="700"] Vehicle Stability Control (VSC) ada pada pada semua varian[/caption]

Sedangkan Traction Control System (TCS/TC) berfungsi untuk meningkatkan kestabilan berkendara saat melewati jalan licin atau melaju di tikungan. Seperti VSC, TCS juga dipakai untuk mencegah terjadinya selip roda pada saat kendaraan berakselerasi. TCS biasanya bekerja bersama dengan Antilock Breaking System (ABS), namun dengan cara kerja yang berlawanan. ABS dipakai untuk mencegah terjadinya selip roda saat pengereman (dengan cara mencegah rem mengunci penuh), sedangkan TCS dipakai untuk mencegah selip justru saat kendaraan melaju atau berakselerasi. TCS dikenal juga sebagai Anti-Slip Regulation (ASR).

Input utama dari TCS adalah sensor kecepatan yang ada di roda. Sensor ini secara kontinye memonitor kecepatan dari setiap roda dan mengirimkan data tersebut ke ABS dan TCS di ECU (Electrical Control Unit). Ketika selip terdeteksi, TCS mengatur rem hidrolik di roda yang mengalami selip. Proses ini akan memperlambat kecepatan roda yang selip, sehingga gaya gesek (friksi) ban dengan permukaan jalan akan muncul kembali. Pada saat yang bersamaan, torsi mesin dipindahkan ke roda yang berlawanan (roda yang masih memperoleh traksi), sehingga mobil dapat bergerak lagi dan pengemudi tinggal mengembalikan ke jalurnya.

Jadi, sekali lagi, bukan VCS dan TCS yang mampu mengurangi gejala limbung di All New Rush, melainkan murni berkat setingan baru di suspensi dan perbaikan pada chassis yang membuatnya lebih kaku dari chassis Rush model lama. Ini juga yang membuat karakteristik pengendaraan All New Rush kini berbeda dibandingkan pendahulunya. Masih belum setara pengendaraan para SUV pesaingnya yang berpenggerak roda-depan plus platform monokok, memang, namun secara signifikan makin mendekati.

Adanya fitur VCS dan TCS tentu saja mampu meningkatkan handling (pengendalian) All New Rush secara meyakinkan. SUV medium Toyota generasi kedua ini bukan cuma terasa jauh lebih lincah bermanuver di lalulintas padat, tapi juga jauh lebih stabil dan mantab di tikungan pada kecepatan tinggi. Tak perlu ragu menekuk setirnya di tikungan tajam, VCS akan menjaga All New Rush tetap berada di jalurnya. Dan saya sempat membuktikannya di beberapa tikungan sepanjang rute Ciater-Tangkuban Perahu-Lembang. Improvement dari Toyota yang patut diacungi jempol!

Lebih dari itu, pengereman All New Rush menurut saya juga lebih bagus ketimbang generasi pertamanya. Terasa lebih smooth namun pakem, namun saya kurang suka dengan injakan di pedal yang terlalu sensitif. Generasi kedua Rush sekarang telah dibekali rem depan cakram berventilasi (ventilated disc) berukuran 16inci, yang lebih cepat mendinginkan suhu rem. Selain itu, sistem pengereman juga dibekali fitur ABS (Anti-lock Brake System), EBD (Electronic Brake Force Distribution), serta BA (Brake Assist).

Fitur ABS berfungsi mencegah roda terkunci dalam pengereman mendadak atau pengereman yang dilakukan secara terus menerus. Dengan begitu, roda akan terhindar dari kemungkinan selip ketika direm medadak – baik dalam kondisi ‘panic braking’ maupun ‘hard braking’ -- yang bisa membuat mobil tergelincir. Pengemudi tetap bisa mengendalikan kendaran, meski melakukan deselerasi di jalanan yang licin.

[caption id="attachment_7672" align="alignnone" width="700"] Anti-lock Braking System (ABS) pada semua tipe[/caption]

Sementara EBD akan membagi beban pengereman pada setiap roda secara proporsional, dengan mengoptimalkan peran rem belakang. Dengan fitur ini, jarak pengereman bisa lebih pendek. Apalagi All New Rush juga dibekali fitur BA (Brake Assist) yang meringankan beban injakan kaki di pedal rem. Ini juga yang membuat injakan di pedal rem All New Rush terasa sensitife. Dengan injakan yang ringan saja, sistem secara otomatis akan menambah tekanan rem. Bukan cuma itu, BA juga mendeteksi jika pedal gas (akselerator) dilepas mendadak ketika kaki kanan ingin berpindah ke pedal rem saat mengerem.

Teks: Yusran Hakim

Spesifikasi Toyota All New Rush 2018

Review Score by BestCar.id

  • 8
  • 7
  • 7.5

    Score

    Ini kejutan yang menyenangkan dari Toyota Indonesia. dengan eksterior, interior, dan mesin yang sama sekali baru plus sederet fitur kenyamanan dan safety/security terlengkap di kelasnya, banderol Toyota All New Rush dipatok sama dengan model sebelumnya – bahkan varian tertinggi lebih murah Rp 3 juta dari sebelumnya. Bukan tak mungkin Toyota All New Rush akan menjadi ‘agen’ yang bakal mencuri sebagian kue di segmen Low-MPV 7-seater, terutama varian tertingginya.