Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search

Pertamina: Dari Premium ‘Tak Wajib’ Menuju Euro 4

BBM jenis Premium RON 88 hanya ‘wajib’ diadakan untuk luar Jawa, Madura dan Bali. Apakah ini terkait dengan komitmen PT Pertamina (Persero) untuk menyediakan BBM berkualitas dan ramah lingkungan, sejalan dengan program Pemerintah yang akan menerapkan penggunaan BBM berkualitas setara Euro 4 secara bertahap mulai Mei tahun ini?

BestCar Indonesia – Makin langkanya keberadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium yang diikuti naiknya harga BBM jenis Pertalite hingga dua kali belakangan ini memang menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat. PT Pertamina (Persero) sendiri telah menyatakan, tidak ada kewajiban menjual BBM jenis Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali jika mengacu pada peraturan yang telah ditetapkan Pemerintah.

Vice President Coorporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito belum lama ini mengatakan bahwa dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014‎, Premium bukan BBM penugasan yang wajib disalurkan di wilayah Jawa, Madura dan Bali. Artinya, di tiga wilayah tersebut Premium menjadi bahan bakar yang masuk kategori umum atau nonsubsidi. “Jadi, pada dasarnya tidak terjadi kelangkaan atau kekurangan Premium di Jawa, Madura dan Bali. Kita enggak ada kewajiban untuk jual Premium di ketiga wilayah itu,” ujarnya.

Sebaliknya, lanjut Adiatma, meski masih satu jenis BBM, Premium di luar Jawa, Madura dan Bali berkategori penugasan. Hal ini juga diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014. Karena itu, Pertamina masih menjamin pasokan Premium di wilayah penugasan luar Jawa, Madura dan Bali. ‎”Kalau di luar Jawa, Madura dan Bali, penyaluran BBM jenis Premium masih dijamin, karena termasuk  BBM khusus Penugasan,” paparnya.

Sementara Unit Manager Communication & CSR MOR III Pertamina, Dian Hapsari Firasati, menegaskan bahwa Pertamina tetap menyediakan Premium di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Saat ini tercatat ada 743 SPBU yang menjual Premium di wilayah tersebut.

“Kami tetap menyediakan Premium untuk masyarakat yang masih menggunakannya‎, meskipun jumlahnya terus menurun. Berdasarkan data, penjualan Premium pada akhir 2017 menurun hingga 50 persen dibandingkan akhir 2016. “Ini adalah indikasi bahwa masyarakat mulai mencari BBM dengan kualitas yang lebih bagus,” tandas Dian.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Pertamina cenderung tidak menyediakan BBM jenis Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali, terutama belakangan ini? Nah, dalam dalam acara “Bro Ringo (Obolan Ringan Otomotif): Mitos & Fakta, Seputar BBM dan Pelumas” yang yang digelar bersama Forum Wartawan Otomotif (FORWOT) di Bogor, Senin lalu (26/03-2018), Manager External Communication PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengungkapkan bahwa hal itu terkait juga dengan komitmen PT Pertamina (Persero) untuk menyediakan BBM berkualitas dan ramah lingkungan bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yang akan menerapkan penggunaan BBM berkualitas setara Euro 4 secara bertahap mulai Mei 2018 mendatang.

Manager External Communication PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita

Melalui Peraturan Menteri (Permen) LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) NO.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru kategori M, N, dan O, Pemerintah menjadwalkan penerapan standarisasi Euro 4 secara bertahap mulai Mei 2018 mendatang. Permen Kementerian LHK No P20/MENLHK/SETJEN/KOM/1/3/2017 tersebut, kata Arya, menetapkan badan usaha untuk menyediakan bahan bakar dengan spesifikasi bensin RON (nilai oktan) minimal 91 dengan standar dan kualitasnya setara Euro 4. “Kalau Premium kan oktannya hanya 88 dan standarnya baru Euro 2. Jadi jelas tidak sesuai,” ujarnya.

Namun demikian, Officer Commercial Retail Fuel Marketing PT Pertamina Persero, Indra Pratama mengakui hingga saat ini PT Pertamina (Persero) belum memiliki standar BBM Euro 4 yang akan berlaku di Indonesia. “Euro 4 itu kan sebetulnya lebih mengacu pada emisi karbon dioksida, karbon monoksida, monokarbon, dan partikel lainnya yang dihasilkan BBM. Pemerintah memang sedang bersiap menerapkannya, tapi hingga saat ini belum ada standarisasi Euro 4 di Indonesia. Artinya, kita belum tahu apakah standarnya akan sama persis dengan Euro 4 yang diterapkan di Eropa, atau hanya setara dengan Euro 4 di Eropa?,” ungkapnya di sela acara Obrolan Ringan Otomotif, Mitos & Fakta Seputar BBM & Pelumas, di Bogor, Senin lalu.

Kendati begitu, timpal Arya Dwi Paramita, Pertamina kini juga sedang bersiap memproduksi BBM berstandar setara Euro 4, sembari menunggu kebijakan itu secara resmi diberlakukan. “Sambil menunggu keluar standarisasinya, kita juga bersiap. Sehingga, ketika nanti disahkan, kita sudah bisa langsung menjualnya,” paparnya.

Indra Pratama, Officer Commercial Retail Fuel Marketing PT Pertamina Persero

Komitmen BBM Berkualitas

Yang pasti, lanjut Arya, sebagai perusahaan ‘plat merah’ PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk terus menyediakan BBM berkualitas dan ramah lingkungan bagi masyarakat. “Menjelang pelaksanaan Asian Games pada Agustus 2018 dan Pertemuan IMF pada Oktober 2018, Pemerintah mensyaratkan penggunaan BBM setara Euro 4 mulai bulan Mei 2018 di Jabodetabek, Palembang, Surabaya, Yogyakarta, Banyuwangi, Bali, Bandung dan Labuan Bajo,” papar Arya.

Menurutnya, aturan penerapan BBM yang ramah lingkungan yang bakal diterapkan Pemerintah dimaksudkan agar kualitas udara lebih sehat. Sesuai dengan pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, beberapa kota besar di Indonesia memiliki kualitas udara yang sudah melampaui ambang batas baku mutu udara yang sehat. Jakarta misalnya, per Januari 2017 – Januari 2018, kualitas udaranya mencapai 35ug/m3, sudah melampaui standar WHO 25ug/m3. Penyebab utamanya adalah gas buang kendaraan bermotor dengan mesin yang menggunakan BBM berkualitas rendah.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu juga menyampaikan bahwa BBM beroktan rendah 88 alias Premium itu berdampak negatif terhadap kesehatan dan berpotensi menimbulkan kanker. Saat ini kanker adalah pembunuh peringkat teratas. Begitu pula dengan produsen mobil yang tidak merekomendasikan penggunaan BBM beroktan 88 (Premium), karena dampaknya yang buruk terhadap kinerja mesin. “Kalau kita lihat, semua mobil keluaran baru saat ini sudah meminta BBM dengan oktan minimal 92,” ujar Arya.

Secara teknis, menurut Arya, Euro 4 itu sendiri lebih mengacu ke standar kualitas bahan bakar dengan octane number (Research Octane Number/RON) minimal 91 dan kandungan sulfur tidak melebihi 50 ppm (part per million). Artinya, BBM jenis baru setara Euro 4 yang akan beredar nanti, apapun namanya nanti, maka standar dan kualitasnya akan jauh lebih baik,” katanya.

Untuk saat ini, sebelum BBM jenis baru setara Euro 4 diberlakukan, Arya menilai tampaknya Pertamax series yang bakal didorong untuk itu. “Karena kan memang oktannya minimal 91 dan kandungan sulfurnya minimal 50 ppm. Nah, yang dekat dengan persyaratan itu ya Pertamax series,” paparnya.

Pertamax series yang diproduksi Pertamina memiliki tiga keunggulan, yaitu detergensi yang berfungsi untuk membersihkan deposit sulfur yang berada di dalam mesin, demulsifier yang bersifat untuk menghindari kandungan air dalam BBM, dan corrotion inhibitor untuk mencegah karat pada mesin. Dengan keunggulan tersebut, mesin menjadi lebih bersih dan umur kendaraan menjadi lebih awet. Selain itu juga mengurangi gejala ‘knocking’, sehingga suara mesin lebih halus. Dan, tentu saja membuat pembakaran menjadi lebih sempurna sehingga konsumsi BBM bisa lebih irit.

Sementara terkait penyediaan BBM berkualitas, Pertamina terus menjalankan berbagai program modernisasi kilang (Refinery Development Masterplan Program/RDMP) dan pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR). Dengan program ini, dalam 5 hingga 7 tahun ke depan Pertamina menargetkan bisa memproduksikan BBM berkualitas dan ramah lingkungan standar Euro-5. Saat ini, sejumlah kilang Pertamina antara lain ada di Balikpapan, Balongan dan Cilacap, yang telah disiapkan untuk menghasilkan produk BBM berkualitas tinggi seperti Pertamina Dex, Pertamax dan Pertamax Turbo.

Saat ini, hadirnya Pertalite sebagai BBM beroktan (RON) 90 sejak beberapa tahun lalu diyakini mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Tidak hanya itu, menurut Arya, Pertamina juga gencar memberikan intesif dan edukasi kepada masyarakat agar lebih tertarik menggunakan produk Pertalite dibanding Premium RON 88. Arya mengklaim, untuk BBM dengan octane 90, harga Pertamina lah yang paling rendah di pasaran. “Semakin banyaknya pilihan konsumen secara tidak langsung menjadi peluang dan tantangan bagi Pertamina, bagaimana kami bisa menyediakan opsi dengan nilai tambah yang baik buat konsumen,” tambahnya.

Namun demikian, masih kata Arya, yang paling penting sebetulnya adalah pengetahuan dan pemahaman pengguna terhadap BBM yang sesuai buat spesifikasi kendaraan mereka. “Yang paling penting dalam pembelian BBM adalah mengetahui BBM jenis apa yang paling sesuai dengan karakter kendaraan kita. Ini merupakan hal penting yang kita harus ketahui dengan jelas, karena akan mempengaruhi performa kendaraan tersebut,” ujar Arya Dwi Paramita.

Bagaimanapun, ketersediaan dan distribusi BBM berkualitas pada akhirnya akan berdampak positif bagi kepentingan produksi dan daya saing industri otomotif nasional. “BBM berkualitas dan ramah lingkungan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, apalagi produsen otomotif telah mensyaratkan BBM berkualitas tinggi dengan oktan 92 untuk kendaraan di atas tahun 2010. Sesuai Peraturan Menteri (Permen) KLHK No 20 tahun 2017, maka BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan akan menjadi pilihan masyarakat. Karena itu, penyediaan BBM berkualitas merupakan komitmen Pertamina menekan pencemaran udara dan menjamin efisiensi kendaraan,” tandas Arya.

Teks: Yusran Hakim

Spesifikasi Mobil

Spesifikasi Keterangan
Tipe
Mesin
Tenaga Maksimum
Torsi Maksimum
Transmisi
Dimensi (P x L x t)
Wheelbase
Ground Clearance
Velg & Ban
Bobot
Kapasitas Tangki
0-100 km/jam
Konsumsi BBM
Kebisingan kabin idle/4000rpm
Harga



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *