Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search

Jalan Panjang Standar Emisi Euro 4 di Indonesia

Indonesia memang sudah tertinggal cukup jauh dari negara-negara lain yang sudah lama menetapkan Euro 4 sebagai standar emisi gas buang kendaraan bermotor. Ini akibat terkendala oleh proses sosialiasi yang lama dan penyediaan bahan bakar ketika menetapkan Euro 2. Pertanyaannya kemudian, apakah kendala yang sama bakal terulang dalam penerapan Euro 4?

BestCar Indonesia – Indonesia yang saat ini masih menerapkan standar emisia gas buang kendaraan bermotor Euro 2 tengah bersiap melakukan ‘lompatan’, memasuki era penerapan standar emisi gas buang ‘Euro 4’ mulai Oktober 2018 ini. Sesuai dengan ketentuan Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri LHK No 20/2017, maka sejak Oktober 2018 seluruh kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin harus sudah memenuhi standar emisi gas buang setara dengan Euro 4. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh seluruh pemegang kepentingan (stake holder) dari Pemerintah, industri otomotif maupun industri pendukung yang sangat saling berkaitan satu sama lain dalam penerapan Emisi Gas Buang Setara Euro 4 ini.

Menjelang implementasinya pada Oktober mendatang, penting untuk dimengerti apa sebenarnya penerapan standar emisi Euro 4, termasuk apa untung ruginya, dan bagaimana pengaruhnya bagi kendaraan Anda.

Euro 4 adalah sebuah standar baku emisi gas buang kendaraan bermotor.  Tujuan utama penerapan standar Emisi Gas buang Euro 4 adalah untuk mengurangi dampak polusi udara yang bersumber dari gas buang kendaraan bermotor.

Seperti diketahui, kota-kota besar dengan populasi kendaraan bermotor yang besar memang rentan dengan tingkat pencemaran (polusi) udara yang tinggi. Ini akan mendatangkan dampak lain, yaitu tingginya biaya pengobatan yang dikeluarkan warga akibat dampak polusi ini. Salah satu penyebab utama polusi udara yang membahayakan kesehatan manusia adalah akibat emisi buangan dari kendaraan bermotor. Mulai dari jenis bahan bakar yang dikonsumsi hingga teknologi mesin yang belum dapat mengolah emisi dengan baik menyebabkan kendaraan bermotor mengeluarkan gas buang yang tidak ramah lingkungan.

Secara umum, emisi kendaran bermotor mengandung gas karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), volatile hydro carbon (VHC), dan partikel lain yang berdampak negatif bagi kesehatan manusia maupun lingkungan, bila melebihi ambang konsentrasi tertentu.

Dan Uni Eropa adalah negara-negara yang pertama kali memulai kepedulian terhadap emisi buangan kendaraan yang ramah lingkungan. Hal itu diawali dengan penerapan Standar Emisi Gas Buang Euro 1 yang diberlakukan di benua Eropa pada tahun 1992. Saat itu penerapan ini mewajibkan penggunaan katalis untuk mobil yang menggunakan bensin. Walaupun begitu persyaratan ini juga diterapkan pada mobil diesel dan mobil berukuran kecil dan besar. Setelah itu berturut-turut Uni Eropa terus memperbaiki dan mengubah standar emisi ini hingga menjadi Euro 6 di tahun 2014.

Dalam perkembangannya, tak hanya Eropa yang menetapkan standar emisi gas buang kendaraan. Standar Baku Emisi Gas buang kendaraan bermotor ini semakin banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia, seperti Amerika dan Jepang, sebagai upaya bersama untuk mengurangi polusi udara yang bersumber dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Masing-masing memiliki standar emisi tersendiri.

Seiring dengan perkembangan teknologi serta kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya mendapatkan udara yang bersih, maka standar Baku Emisi Gas Buang Kendaraan bermotor juga semakin ketat batasannya. Standar emisi Eropa dinilai merupakan yang terbaik dan tepat untuk lingkungan serta mudah diaplikasikan. Saat ini di Eropa sudah mencapai tahapan Euro 6 sebagai sebuah standar Emisi Gas buang yang paling tinggi dan paling ketat.

Pada bulan April 2017, Indonesia mengumumkan bahwa mulai Oktober 2018 mengadopsi Standar Emisi Gas Buang Euro 4 untuk kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin dan April 2021 untuk kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar solar. Jika benar penerapan Euro 4 di Indonesia jadi dilakukan mulai Oktober 2018 ini, maka di Asia hanya tersisa dua negara yang masih menggunakan standar emisi gas buang Euro 2, yaitu Laos dan Myanmar. Sedangkan sebagian besar negara-negara di dunia pada umumnya sudah mengadopsi standar Emisi Gas Buang Euro 3, 4 atau yang lebih tinggi.

Indonesia memang sudah tertinggal cukup jauh dari negara-negara lain yang sudah lama menetapkan Euro 4 sebagai standar emisi gas buang kendaraan bermotor. Ini akibat terkendala oleh proses sosialiasi yang lama dan penyediaan bahan bakar ketika menetapkan Euro 2. Pertanyaannya kemudian, apakah kendala yang sama bakal terulang dalam penerapan Euro 4? Jika masih dihadapkan pada kendala yang sama, bukan tak mungkin kita akan kembali tertinggal, bahkan oleh Negara tetangga Asia Tenggara. Di saat baru mulai beradaptasi dengan Euro 4, negara lain malah sudah menggunakan Euro 6 atau Euro terbaru lainnya. Lihat saja, sekarang ini Eropa, China, dan Korea Selatan saja telah menggunakan Euro 5 sebagai standar emisi kendaraan bermotor di negara masing-masing.

Tapi sejauh ini Pemerintah sendiri sepertinya sangat yakin mereka siap menyediakan bahan bakar berkualifikasi Euro 4 bahkan hingga Euro 5 melalui pembangunan kilang-kilang baru yang mampu memproduksi bahan bakar minyak dengan kualitas lebih baik. Pertamina misalnya, akan mempersiapkan kilang-kilang (termasuk dua kilang baru) di Bontang, Cilacap, Tuban, Balikpapan, Balikpapan, Dumai, dan Balongan, yang mampu memproduksi BBM Euro 4 dan Euro 5. Kilang Balikpapan yang telah di-upgrade bahkan disebut-sebut sebagai kilang pertama yang siap memproduksi BBM Euro 4.

Seperti diketahui, seiring dengan diberlakukannya Peraturan Menteri LHK No.P. 20 Tahun 2017, PT (Persero) Pertamina juga diharuskan untuk menyediakan BBM dengan kadar oktan (RON) di atas 92, karena hanya bahan bakar jenis inilah yang bisa digunakan oleh kendaraan dengan engine berstandar Euro 4. Sejalan dengan itu, untuk mendukung efektivitas pencapaian penurunan emisi gas buang, secara bertahap Pertamina diminta mengurangi pasokan BBM dengan RON di bawah 92.

Selain itu, untuk mengatasi kendala proses sosialisasi, Pemerintah memberikan tenggang waktu bagi pabrikan untuk penyesuaian pada proses produksi kendaraan. Untuk kendaraan dengan mesin berbahan bakar bensin, tenggang waktu yang diberikan adalah 1 tahun enam bulan, terhitung sejak peraturan dikeluarkan. Dengan demikian untuk kendaraan jenis bensin aturan mainnya sudah efektif diberlakukan pada Oktober mendatang. Sedangkan bagi kendaraan dengan bahan bakar diesel, tenggang waktunya diberikan selama 4 tahun sehingga aturan baru ini berlaku efektif pada 2021 mendatang.

Sementara di sektor industri otomotif sendiri, sebagian besar Agen Pemegang Merek (APM) di Indonesia mengklaim telah siap memasuki era Euro 4. Mulai Oktober nanti, semua mobil yang diproduksi di Indonesia harus berstandar Euro 4. Seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No.P. 20 Tahun 2017 Tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor roda 4 atau lebih Tipe Baru Katagori M, N dan O, dalam pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan produksi kendaraan bermotor tipe baru, wajib memenuhi ketentuan Baku Mutu Emisi Gas Buang  standar Euro 4. Dengan kata lain, pasal tersebut mensyaratkan bahwa mesin kendaraan baru yang boleh atau diizinkan untuk dijual dan digunakan di Indonesia adalah yang sudah memenuhi ketentuan standar Baku Mutu Emisi Gas Buang Euro 4.

“Kami sudah siap semua. Sesuai dengan peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan pembicaraan dengan Kemenperin, maka otomotif harus menyiapkan kendaraan berkualifikasi Euro 4. Jadi, Oktober semua kendaraan yang keluar dari pabrik adalah Euro 4,” ungkap Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO),  Yohannes Nangoi, di sela pembukaan pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) bulan Agustus lalu.

Jadi, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No.P. 20 Tahun 2017, yang perlu digarisbawahi bahwa kendaraan-kendaraan yang sudah menggunakan teknologi yang sesuai dengan standar emisi gas buang Euro 4 tidak dapat dioperasikan dengan bahan bakar yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, untuk kendaraan yang belum menggunakan teknologi standar Euro 4 tidak perlu khawatir, karena bahan bakar yang memenuhi kriteria ketentuan Euro 4 masih dapat dipergunakan untuk kendaraan-kendaraan dengan standar baku emisi lebih rendah dari standar Euro 4. Dengan kata lain, kendaraan-kendaraan yang berstandar Euro 2 atau Euro 3 bisa menggunakan bahan bakar yang telah berstandar Euro 4.

Mengenai mobil-mobil yang telah beredar namun standarnya belum Euro 4 ini  juga diakui Yohannes Nangoi, tidak menjadi masalah. Pasalnya, ketentuan standar emisi Euro 4 ini hanya diwajibkan untuk mobil baru, bukan mobil lama atau yang sudah ada di tangan konsumen. “Yang menjadi fokus Pemerintah dalam penerapan Euro 4 ini adalah standar bahan bakarnya, bukan pada komponen mobilnya. Jadi tidak ada masalah. Mobil yang sudah beredar, walaupun secara teknologi belum memenuhi standar Euro 4, jika diisi dengan bahan baklar berkualifikasi Euro 4 maka performanya justru lebih bagus,” tutur Nangoi.

Pendapat senada terkait penggunaan bahan bakar Euro 4 ini juga diungkapkan pemerhati otomotif yang juga Dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri. Menurutnya, konsumen tidak masalah untuk menggunakan  bahan bakar jenis Euro 4 ini untuk kendaraan dengan mesin standar Euro 2. Malah dari sisi performa kendaraan akan lebih baik, karena proses pembakaran menjadi lebih baik berkat oktan bahan bakar Euro 4 yang lebih tinggi dan kandungan sulfur-nya juga lebih rendah, sehingga menghasilkan emisi yang juga lebih rendah.

Oleh karena itu, lanjut Tri Yuswidjajanto, pemilik mobil lama dengan standar Euro 2 tidak perlu melakukan modifikasi engine-nya. Selain tidak terkena aturan emisi yang baru, modifikasi pada engine Euro 2 agar sesuai standar Euro 4 tidak akan mempengaruhi performa kendaraan. “Artinya bagi masyarakat yang selama ini memiliki kendaraan dengan standar Euro 2 tidak perlu mengeluarkan biaya untuk melakukan modifikasi. Apalagi terhadap performa kendaraan juga tidak ada pengaruhnya,” kata Tri Yuswidjajanto.

Tak heran jika pabrikan besar seperti PT. Toyota-Astra Motor (TAM) berani memastikan kepada semua pelanggan, baik pemilik lama Toyota maupun yang akan membeli kendaraan baru, untuk  tidak khawatir dengan akan diberlakukannya ketentuan standard Euro 4 bagi kendaraan roda empat oleh Pemerintah mulai Oktober ini.

“Peraturan Menteri hanya menekankan pada kewajiban terhadap pelaku industri, bukan pada kewajiban pelanggan, sehingga mereka ini tidak perlu khawatir. Sebagai Agen Pemegang Merek (APM), TAM memastikan akan memenuhi ketentuan tersebut di waktu yang ditentukan oleh Pemerintah. Semua emisi kendaraan baru Toyota yang dijual di setiap dealer, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun luar negeri, dipastikan sudah memenuhi sudah standar Euro 4. Jadi pelanggan tidak perlu risau,” kata Executive General Manager TAM, Fransiscus Soerjopranoto.

Yang pasti, dengan diadopsinya Standar Emisi Gas Buang Euro 4 oleh Indonesia, maka rakyat Indonesia akan mendapatkan kualitas udara yang lebih baik dibanding saat Indonesia masih menerapkan standar emisi gas buang Euro 2. Namun untuk mendukung efisiensi implementasi Euro 4, maka ada dua hal utama yang berperan untuk pencapaian Standar Emisi Gas Buang Euro 4, yaitu:

  1. Tersedianya kendaraan bermotor yang sudah menggunakan teknologi yang sesuai dengan standar  atau ketentuan Euro 4.
  2. Tersedianya bahan bakar secara merata di seluruh Indonesia yang digunakan oleh kendaraan bermotor yang juga sudah memenuhi ketentuan Euro 4.

Bahan bakar yang digunakan pada kendaraan dengan standar emisi gas buang setara Euro 4 juga harus memenuhi kriteria-kriteria yang sudah ditentukan beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Bahan bakar bensin

  1. Kadar sulfur             :              Di bawah 50 ppm
  2. RON                         :              Minimal 91
  3. Aromatic                   :              Maksimal 35

Bahan bakar diesel

  1. Kadar sulfur            :             Di bawah 50 ppm
  2. Cetane Number        :             Minimum 51
  3. Ash content               :             Maksimal  0.01

Untuk kendaraan-kendaraan yang sudah mengusung teknologi Euro 4 bila didukung dengan penggunaan bahan bakar yang sudah sesuai dengan ketentuan Euro 4, maka saat diuji maupun dioperasikan akan menghasilkan emisi gas buang yang sesuai dengan ketentuan Euro 4 yang berlaku.

Untuk kendaraan bermotor berbahan bakar bensin, secara umum batasannya adalah sebagai berikut:

  1. CO                  :              1.0 g/km
  2. HC                  :               0.10 g/km
  3. NOx               :               0.08
  4. PM                 :               No limit.

Sementara untuk kendaraan bermotor diesel secara umum batasannya adalah sebagai berikut:

  1. CO                 :              0.50 g/km
  2. HC+Nox         :              0.30 g/km
  3. Nox                :              0.25 g/km
  4. PM                 :              0.025 g/km

Terlepas dari perhitungan cost yang membuat harga BBM berstandar Euro 4 akan lebih mahal dari harga BBM dengan kadar oktan (RON) 92 yang ada saat ini, bagaimanapun penerapan standar emisi gas buang setara Euro 4 merupakan satu langkah maju bagi industri otomotif Indonesia. Penerapan standar emisi Euro 4 pada gilirannya akan ‘memaksa’ pabrikan otomotif domestik menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan standar produk otomotif global. Dengan begitu, kapasitas terpasang produksi industri otomotif Indonesia yang saat ini sebesar 2,3 juta unit per tahun dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor, sebagai sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peran sektor manufacturing sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Teks: Yusran Hakim

Spesifikasi Mobil

Spesifikasi Keterangan
Tipe
Mesin
Tenaga Maksimum
Torsi Maksimum
Transmisi
Dimensi (P x L x t)
Wheelbase
Ground Clearance
Velg & Ban
Bobot
Kapasitas Tangki
0-100 km/jam
Konsumsi BBM
Kebisingan kabin idle/4000rpm
Harga



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *