Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search

J.D Power: Baru 22% Pembeli LCGC yang Peroleh Layanan Standar Penjualan dari Dealer

Dibandingkan pembeli mobil di segmen lainnya, sejumlah konsumen LCGC lebih sedikit mendapatkan tawaran layanan standar dari dealer resmi, semisal demonstrasi saat tes uji kendaraan (35% v.s 42%); penawaran cicilan dari penjual (57% v.s 68%); janji berlebihan mengenai waktu pengiriman dari penjual (28% v.s 23%); dan waktu pengiriman dalam seminggu untuk mobil baru (58% v.s 63%).

BestCar Indonesia Para konsumen mobil murah ramah lingkungan alias Low Cost Green Car (LCGC) ternyata kurang mendapat pelayanan yang baik dari dealer ketimbang konsumen non-LCGC, meski komposisi signifikan pembeli mobil pertama kali (first-time buyers) — sebesar 77% — berasal dari segmen LCGC ini. Hasil riset J.D. Power 2017 Indonesia Sales Satisfaction Index (Mass Market) Study,SM yang diterbitkan Rabu lalu (01/11-2017) bahkan menyebutkan, hanya sebesar 22% konsumen LCGC yang mendapatkan semua standar proses dalam pengalaman pembelian mereka, dibandingkan dengan pembeli kendaraan non-LCGC (27%).

Studi Indonesia Sales Satisfaction Index (SSI) 2017 dirangkum berdasarkan respon dari 2.476 pemilik kendaraan baru yang membeli kendaraannya pada rentang waktu antara bulan September 2016 hingga Juli 2017. Studi dilaksanakan sejak Maret hingga September 2017, mencakup pengukuran tingkat kepuasan konsumen atas penjualan dan pengiriman kendaraan dari penjual resmi di Indonesia.

Studi yang dilakukan di tahun yang ke-17 ini mengamati enam faktor utama yang menunjang tingkat kepuasan pemilik kendaraan baru dengan pengalaman pembelian. Faktor tersebut meliputi (dari yang terpenting): waktu pengiriman; proses pengiriman, tenaga pemasaran; inisiasi penjualan; fasilitas dealer; dan transaksi. Tingkat kepuasan diukur berdasarkan skala 1.000 poin dengan angka tinggi menandakan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

JDPowerSSI2017-3

Dalam Studi Indonesia Sales Satisfaction Index (SSI) 2017 ini, J.D. Power juga diperoleh fakta bahwa konsumen LCGC memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap agen penjual/dealer (dengan angka kepuasan sebesar 818 poin dari nilai skala 1.000) ketika pengalaman mereka ternyata lebih baik dari yang diharapkan, dibandingkan dengan angka 837 pada kelompok non-LCGC.

Secara keseluruhan, segmen LCGC menguasai 27% pasar otomotif Indonesia pada tahun 2017 ini, meningkat dari 22% pada tahun 2015 lalu. Tingkat kepuasan keseluruhan di antara konsumen segmen LCGC berada di angka 774 poin, dibanding dengan angka 788 pada segmen kendaraan lainnya. Selain itu, survei membuktikan konsumen LCGC bukan hanya memiliki ekspektasi yang lebih tinggi, namun juga menerima implementasi proses layanan penjualan yang relatif lebih rendah dari dealer mobil dibandingkan dengan konsumen non-LCGC.

Dibandingkan dengan pembeli mobil di segmen lainnya, sejumlah konsumen LCGC lebih sedikit mendapatkan tawaran layanan dari dealer resmi dalam hal seperti  demonstrasi saat tes uji kendaraan (35% untuk pembeli LCGC versus 42% untuk non-LCGC); penawaran cicilan dari penjual (57% untuk pembeli LCGC versus 68% untuk non-LCGC); janji berlebihan mengenai waktu pengiriman dari penjual (28% untuk pembeli LCGC dibanding 23% bagi pembeli non-LCGC); dan waktu pengiriman dalam seminggu untuk mobil baru (58% bagi pembeli LCGC dibanding 63% bagi konsumen non-LCGC).

JDPowerSSI2017-2

Berikut adalah beberapa penemuan penting lainnya dari Studi Indonesia Sales Satisfaction Index (SSI) 2017:

  •  Penambahan lama waktu untuk pencapaian kesepakatan: Studi ini menemukan bahwa konsumen kini membutuhkan lebih banyak waktu untuk tawar-menawar hingga memutuskan untuk membeli dari penjual resmi: di tahun 2017, 52% konsumen membutuhkan waktu selama sebulan untuk memutuskan, dibandingkan pada tahun 2016 yang mencapai 61%. Saat pembeli memutuskan membeli dalam kurun waktu sebulan, tingkat kepuasan meningkat sebesar 14 poin.
  • Menurunnya waktu untuk penyelesaian proses penjualan: Kecepatan waktu untuk menyelesaikan proses transaksi penjualan membaik di tahun 2017. Hampir tiga per empat (73%) konsumen mengindikasikan penyelesaian transaksi dalam kurun waktu tujuh hari; meningkat 10% dibandingkan tahun 2016. Ketika proses transaksi selesai dalam tujuh hari, tingkat kepuasan meningkat 8 poin.
  • Berkurangnya waktu untuk pengiriman kendaraan: Waktu pengiriman kendaraan baru dalam jangka waktu satu minggu setelah pemesanan, meningkat menjadi 61% di 2017 dari 55% di 2016. Tingkat kepuasan konsumen yang menerima kendaraan dalam waktu seminggu juga meningkat 24 poin lebih tinggi dari pembeli yang menerima kendaraannya lebih dari tujuh hari (797 versus 773, perbandingan langsung). Sementara itu, 91% pembeli mendapatkan pengiriman kendaraannya ke tempat tinggal mereka; tahun ini sebagian besar dari persentase tersebut mendapatkan kendaraannya diantarkan oleh agen penjual mereka (71% di tahun 2017 v.s 59% di 2016), hingga tingkat kepuasan meningkat 11 poin.

Melihat data wholesales (penjualan/distribusi dari pabrik ke dealer) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) sepanjang bulan Januari hingga Agutus 2017, akumulasi penjualan tujuh model LCGC yang dipasarkan lima APM (Agen Pemegang Merek) sudah mencapai 162.141 unit.

Dari jumlah itu, Toyota Calya menempati urutan teratas dengan jumlah penjualan sepanjang 2017 (Januari-Agustus 2017) mencapai 52.159 unit dengan market share 32 persen. Pada bulan Agustus saja Calya mampu meraih penjualan 5.992 unit, lebih tinggi dari bulan Juli yang hanya 5.572 unit.

Di urutan kedua ada Daihatsu Sigra, saudara kembar Calya yang membukukan wholesales 28.293 unit sepanjang Januari hingga Agustus 2017. Sementara Honda Brio Satya menyusul di urutan ketiga, dengan wholesales mencapai 26.709 unit sepanjang 2017. Penjualan LCGC andalan Honda yang hanya 3.279 unit pada bulan Agustus 2017 ini turun dari bulan sebelumnya (Juli) yang mencapai 4.143 unit.

Posisi keempat dan kelima lagi-lagi ditempati duet Toyota Agya dan Daihatsu Ayla. Masing-masing menyumbang total wholesales 22.946 unit (Toyota Agya) dan 21.382 unit (Daihatsu Ayla). Sedangkan Datsun Go dan Go+ menempati urutan keenam dengan total wholesales 6.920 unit sepanjang periode Januari-Agustus 2017. Angka penjualan LCGC andalan Nissan-Datsun ini juga naik pada bulan Agustus, menjadi 1.140 unit dibandingkan bulan penjualan bulan sebelumnya.

LCGS Suzuki Wagon R berada paling buncit, menempati urutan terbawah dengan kontribusi 3.732 unit sejak Januari sampai Agustus 2017. Berita jeleknya, LCGC andalan Suzuki ini hanya terjual 222 unit pada Agustus, anjlok drastis dibanding penjualannya pada bulan Juli.

JDPowerSSI2017-4

Meski pada bulan Agustus 2017 hanya LCGC Honda (Brio Satya) dan Suzuki (Wagon R) yang penjualannya anjlok dibanding bulan sebelumnya (Juli 2017), namun secara keseluruhan penjualan LCGC makin tersendat pada bulan September 2017, ketika angka wholesales (pengiriman/distribusi unit dari pabrik ke dealer) mendekati titik terendah sepanjang tahun 2017 ini. Untungnya, secara keseluruhan penjualan LCGC sepanjang Januari-September 2017 masih tercatat bertumbuh 13,5% menjadi 179.768 unit.

Melemahnya daya beli konsumen entry level atau first-time buyers di segmen menengah-bawah diduga menjadi penyebab turunnya angka penjualan kendaraan LCGC tersebut. Selain itu, dipengaruhi pula oleh faktor kehati-hatian pabrikan maupun perusahaan pembiayaan menjelang tutup tahun.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), akumulasi penjualan (total wholesales) 7 model LCGC yang dipasarkan lima APM sepanjang bulan September 2017 tercatat hanya 17.627 unit, turun 18,06% dari capaian pada bulan sebelumnya. Bahkan jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu (September 2016), pengirman/distribusi dari pabrik ke dealer (wholesales) pada bulan September tahun ini anjlok 30,78%.

Duo LCGC Toyota-Daihatsu yang diluncurkan pada kuartal II/2017 tidak memberi tambahan yang signifikan terhadap total wholesales bulan September 2017. Bahkan, Toyota Agya menyentuh angka terendah sepanjang tahun ini menjadi hanya 1.496 unit.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama penjualan LCGC turun hingga di angka dua digit. Pada bulan Juni 2017 lalu, penjualan mobil bebas pajak ini sempat turun hingga 20,01%. Namun, fenomena itu disebabkan oleh pasokan yang terpangkas akibat berkurangnya hari kerja yang terkait dengan hari raya Idulfitri alias Lebaran.

Kali ini, selain dipicu menurunnya daya beli di segmen menengah-bawah, menurut Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto, penurunan wholesales dipengaruhi juga oleh faktor kehati-hatian pabrikan maupun perusahaan pembiayaan menjelang tutup tahun. “Kami antisipasi kondisi ke depan. Daya beli di low segment itu turun. Lalu, kami lihat perkembangan NPL (non performing loan) alias kredit macet juga belum membaik,” kata Soerjopranoto beberapa waktu lalu.

Sumber: Bisnis.com

Sumber: Bisnis.com

Kenaikan kredit macet (NPL), lanjut Soerjopranoto, berakibat pada banyaknya pengajuan kredit yang ditolak perusahaan pembiayaan. Akibatnya berdampak pada penjualan mobil dengan banderol di bawah Rp200 juta. Penolakan pengajuan kredit yang paling banyak terjadi pada konsumen LCGC. “Penolakan pengajuan kredit itu fluktuatif, bisa 30% hingga 60% dari total permintaan LCGC,” ujarnya. “Penolakan (kredit) itu karena banyak konsumen di kelas ini belum memiliki cukup kemampuan finansial yang disyaratkan perusahaan pembiayaan,” tambahnya.

Soerjopranoto mencontohkan calon pembeli LCGC atau low-MPV yang akan menggunakan kendaraannya untuk armada taksi dalam jaringan. Sementara, bisnis tersebut tidak lagi memberikan keuntungan signifikan kepada pemilik mobilnya. “Kami lihat kondisi seperti itu. Jangan sampai segmen LCGC kelebihan suplai. Kalau kelebihan yang terjadi harus banting-bantingan harga. Sebab, menjelang akhir tahun dealer berupaya menghabiskan seluruh produknya yang masuk sepanjang tahun, mengingat penjualan mobil baru sekarang ini sangat dipengaruhi oleh kode VIN (vehicle identification number) berdasar tahun produksinya,” papar Soerjo.

Pengurangan pasok pabrikan juga terjadi pada Karimun Wagon R. Penjualan LCGC andalan Suzuki ini bahkan menyentuh titik terendah 56 unit atau hanya 13,33% dari rata-rata bulanan tahun ini. PT. SIS (APM Suzuki di Indonesia) tampaknya sangat berhati-hati memasok Suzuki Karimum Wagon R ke dealer sepanjang tahun ini.

Pasokan Karimun Wagon R yang dibanderol harga mulai Rp127 juta sepanjang periode Januari-September 2017 merosot hingga lebih dari setengahnya (50,44%) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menjadi hanya 3.788 unit.

Berbeda dengan penjualan bulan Agustus 2017 yang merosot, Honda justru menjadi pabrikan yang meraih peningkatan total wholesales lewat Brio Satya pada bulan September 2017. Total wholesales LCGC Honda meningkat sekitar 7,87% dari bulan sebelumnya, menjadi 3.559 unit. “Brio Satya yang dikembangkan dari city car masih menjadi andalan Honda di pasar domestik. Secara umum, penjualan produk-produk Honda di segmen-segmen favorit konsumen Indonesia masih menunjukkan tren positif,” kata Marketing & After Sales Service Director PT. HPM (Honda Prospect Motor) Jonfis Fandy, Oktober lalu.

Bagaimanapun, faktanya memang ada kecenderungan penurunan penjualan produk-produk LCGC di dalam negeri sepanjang tahun ini dan mungkin juga ke depan. Tanpa menafikan berbagai faktor ekonomi sebagai pemicu eksternal, harus disadari juga bahwa faktor-faktor internal dari manufaktur mobil dan penjual (dealer) – seperti hasil riset J.D. Power yang dirangkum dalam Indonesia Sales Satisfaction Index (SSI) 2017 – ikut menjadi pemicu tren penurunan penjualan LCGC.

“Perlu dipertimbangkan bahwa ada kecenderungan konsumen untuk pindah ke segmen yang lebih tinggi dalam hal kepemilikan kendaraan. Sehingga, penting bagi para manufaktur mobil dan penjual (dealer) untuk mengerti profil dan kebutuhan konsumen tersebut dalam memenuhi pengalaman pembelian yang superior atau jauh lebih baik,” papar Kaustav Roy, Direktur J.D. Power.

Seperti yang ditegaskan Kaustav Roy,manufaktur mobil dan penjual (dealer) yang dapat memberikan fokus lebih kepada konsumen LCGC akan lebih berpeluang mendapatkan referensi dan tingkat pembelian ulang yang lebih tinggi.” Nah!

Teks: Yusran Hakim

Spesifikasi Mobil

Spesifikasi Keterangan
Tipe
Mesin
Tenaga Maksimum
Torsi Maksimum
Transmisi
Dimensi (P x L x t)
Wheelbase
Ground Clearance
Velg & Ban
Bobot
Kapasitas Tangki
0-100 km/jam
Konsumsi BBM
Kebisingan kabin idle/4000rpm
Harga



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *