Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search
image001

Hill Descent Control (HDC)

image002

BestCar Indonesia – KENDARAAN berpenggerak 4-roda (4WD ) dan AWD modern saat ini banyak yang telah mengaplikasi fitur Hill Descent Control (HDC). Sistem canggih ini pada dasarnya merupakan perangkat pengontrol kecepatan otomatis yang memanfaatkan kerja fitur pengereman ABS untuk mengontrol gerak mobil dalam kecepatan sangat rendah, khususnya saat menuruni bukit terjal dengan permukaan jalan yang jelek atau licin.

Untuk memahami konsep kerja HDC, pertama, tentu saja Anda harus memahami ‘hukum dasar’ berkendara menuruni permukaan jalan licin yang bersudut tajam: JANGAN MENGINJAK REM! Penggunaan rem pada situasi seperti ini justru bisa mengakibatkan roda terkunci, dan jika ini terjadi maka kendaraan akan tergelincir dan Anda kehilangan kontrol setir. Sangat berbahaya!

Pada kendaraan 4WD yang menggunakan transmisi manual, prosedur standar yang harus dilakukan untuk mengatasi situasi seperti itu adalah mengoperasikan tuas transfer case/transfer gearbox pada posisi ‘low range’ (4L) dengan tuas transmisi pada gigi (gear) terendah (gear 1) dan membiarkan kendaraan meluncur turun dengan putaran mesin minimum. Gear transmisi terendah (gigi 1) dengan rasio low range (4L) akan membuat kendaraan ‘merayap’ sangat pelan tanpa mengakibatkan mesin mati. Dengan cara ini Anda tidak perlu menginjak rem, sehingga dapat mengendalikan kemudi sesuai kebutuhan untuk memperoleh traksi maksimal di permukaan jalan yang licin. Pelan tapi aman.

image003

Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana untuk kendaraan all-wheel drive (AWD) yang tidak dibekali moda low range ratio gear (4L) atau juga mobil-mobil berpenggerak 2-roda (2WD)? Atas kondisi inilah kemudian pabrikan mengembangkan sistem HDC. Dengan HDC, pengemudi dengan mudah dapat mengontrol gerak mobil saat menuruni bukit terjal yang permukaan jalannya kasar atau licin, tanpa perlu menginjak pedal rem sama sekali. Cukup menekan tombol tertentu – umumnya berupa tombol cruise control – di dekat roda kemudi, maka sistem HDC akan mengerakkan sistem pengereman ABS untuk mengontrol kecepatan masing-masing roda. HDC bekerja dengan cara memonitor throttle, kecepatan, dan pengereman.

image004Jika kendaraan melaju tanpa adanya input dari pengemudi (pengemudi melepas injakan di pedal gas/throttle) dan menekan pedal rem (dengan kata lain, pengemudi justru mengerem) saat menuruni bukit curam, HDC secara otomatis akan ‘membaca’ situasi tersebut, lalu ‘menggerakkan’ rem ABS bekerja untuk deselerasi hingga kecepatan paling rendah. Dengan cara ini, pengemudi tak perlu lagi disibukkan untuk menginjak dan melepas rem berkali-kali untuk menghindari kemungkinan roda terkunci yang bisa mengakibatkan mobil tergelincir. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengontrol gerak setir untuk memilih permukaan jalan paling baik, sehingga roda tetap memperoleh traksi maksimum. Dengan HDC, pengemudi lebih percaya diri untuk mengontrol arah kendaraan, terutama pada saat menuruni jalan curam yang permukaannya jelek (berlubang dalam di sana-sini, atau sangat licin).

Gampangnya, HDC sebetulnya bekerja layaknya sistem pengereman ABS yang secara simultan mengerem dan melepas rem berkali-kali dalam satu detik, sehingga kemungkinan roda terkunci dalam proses pengereman tidak terjadi. Dengan kata lain, HDC bisa disebut juga sebagai ‘slow motion’ ABS.

image005HDC pertama kali dikembangkan oleh Land Rover pada model SUV-nya, Freelander yang tidak dibekali moda low range gear (4L). Saat itu banyak protes dari para konsumen Freelander yang tak puas karena SUV AWD Land Rover itu sulit dikontrol di medan turunan curam dengan permukaan jalan licin atau jelek. Hal itu membuat Land Rover terpicu mengembangkan HDC, untuk mengatasi kelemahan Freelander.

Dan kini, HDC berkembang pesat dan digunakan oleh pabrikan lain pada model SUV AWD mereka dengan nama yang berbeda-beda. Tentu, pengembangan sistem HDC saat ini makin sempurna, walau konsekuensinya juga makin rumit. Pada HDC yang lebih modern, sistem ini – tergantung seberapa canggihnya — bahkan mampu mendeteksi kecepatan kendaraan, sudut kemiringan jalan yang dilalui, sudut kemudi (arah belok roda depan), dan arah travel suspensi saat melalui permukaan jalan yang tidak rata.

image006

Land Rover sendiri misalnya, mengaplikasikan sistem HDC yang lebih canggih pada model Range Rover 4WD, dengan memadukan Traction Control (kontrol traksi) dan low-range gear (4L) yang memang menjadi fitur standar SUV mewah pabrikan asal Inggris tersebut. Hasilnya, Range Rover dengan HDC terbaru mampu merayap turun dengan kecepatan amat rendah, lebih pelan daripada kecepatan orang berjalan kaki.

Tombol HDC pada Land Rover Freelander

Tombol HDC pada Land Rover Freelander

Tombol HDC pada KIA Sorento

Tombol HDC pada KIA Sorento

Tombol HDC pada Ford Explorer

Tombol HDC pada Ford Explorer

image010

Tombol HDC pada Chevrolet Captiva 2.0

 

image011Begitu pula dengan BMW. Pabrikan asal Jerman itu mengembangkan HDC canggih pada model SUV-nya, BMW X5. Dengan menekan sebuah tombol ketika X5 melaju pada kecepatan kurang dari 35 km/jam, sistem HDC segera bekerja mengurangi laju kendaraan hingga kecepatan konstan hingga sekitar 6,5 – 7 km/jam saat menuruni bukit terjal dengan kemiringan lebih dari 45 derajat, misalnya. Pada kondisi itu, secara otomatis lampu rem akan menyala, memberi peringatan kepada pengemudi lain di belakangnya. Hebatnya, pada saat HDC aktif, Anda masih bisa memainkan pedal gas untuk melaju dari kecepatan merayap hingga 25 km/jam – di kecepatan ini HDC secara otomatis akan ‘standby’ dan bahkan akan ‘de-aktif’ saat laju X5 mencapai di atas 60 km/jam.

Tombol DAC pada Toyota 4Runner AWD Limited 2011

Tombol DAC pada Toyota 4Runner AWD Limited 2011

Pengembangan HDC tercanggih dipelopori oleh Toyota pada model 4Runner lansiran 2003. Sistem yang oleh Toyota disebut Downhill Asist Control (DAC) ini mengandalkan ‘otak’ komputer mobil yang akan mengalkulasi kecepatan, arah travel suspensi, dan sudut kemiringan jalan saat mobil menuruni tebing terjal yang kondisi permukaan jalannya jelek atau licin. Sensor kecepatan, yaw rate, dan sensor deselerasi akan menyediakan seluruh informasi tadi, sementara komputer secara otomatis akan ‘memerintahkan’ perangkat rem dengan ABS melakukan proses pengereman untuk membuat kondisi mobil stabil dan memperlambat lajunya hingga kecepatan antara 5 – 7 km/jam. Sistem DAC pada Toyota 4Runner bahkan mampu bekerja dalam posisi melaju mundur menuruni tebing, dengan kecepatan antara 3 – 5 km/jam.

Toyota tak hanya melengkapi 4Runner dengan sistem HDC yang lebih banyak digunakan di medan off-road, tetapi juga mengembangkan sistem serupa yang lebih berfungsi dalam pengendaraan on-road. Sistem ini dinamakan Hill-start Assist Control (HAC) dan bekerja secara otomatis sepanjang tuas transmisi berada pada setiap posisi gear (gigi) maju. HAC mencegah kemungkinan mobil melorot saat berhenti di tengah tanjakan, berkat sistem rem yang secara otomatis akan mengunci roda dan menahan mobil berhenti dalam waktu hanya beberapa detik setelah kaki pengemudi melepas injakannya dari pedal rem. Dengan cara ini, kaki pengemudi punya cukup waktu berpindah ke pedal gas (akselerator) untuk melaju menaiki tanjakan, tanpa harus khawatir mobil akan melorot.

Kuncinya terletak pada desain baru unit komponen sensor kecepatan (wheel speed sensor) yang dikembangkan Toyota pada perangkat HDC maupun HAC. Unit yang berupa sensor rotasi Magnetic Resistance Element (MRE) ini mampu mendeteksi menurunnya kecepatan hingga nyaris nol km/jam – bandingkan dengan sensor magnetik induktif konvensional yang hanya mampu’ membaca’ kecepatan terendah sekitar 5 km/jam. MRE bahkan mampu mendeteksi arah rotasi (putaran) roda – ke belakang atau ke depan. MRE sebetulnya telah digunakan oleh beberapa pabrik otomotif sebagai sensor posisi crankshaft (kruk as) dan camshaft (noken as) beresolusi tinggi, namun Toyota 4Runner merupakan kendaraan pertama yang mengaplikasi teknologi tersebut sebagi sensor kecepatan putaran roda.

Nah, jika pengembangan teknologi tinggi pada mobil-mobil sedan dan MPV lebih fokus pada sistem komputerisasi suspensi, steering, dan pengereman, kini para desainer kendaraan SUV, jip dan pikap mengembangkan teknologi maju dalam penggunaan sistem yang terintegrasi untuk membantu kontrol pengemudian dan pengendaraan. Toyota 4Runner, BMW X3, X5, dan X6, Range Rover, Lexus RX series, dan banyak SUV mewah lainnya memperlihatkan bagaimana wujud awal teknologi tinggi pada SUV dan jip di masa depan..

Spesifikasi Mobil

Spesifikasi Keterangan
Tipe
Mesin
Tenaga Maksimum
Torsi Maksimum
Transmisi
Dimensi (P x L x t)
Wheelbase
Ground Clearance
Velg & Ban
Bobot
Kapasitas Tangki
0-100 km/jam
Konsumsi BBM
Kebisingan kabin idle/4000rpm
Harga



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *