Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search

Catat Rekor Penjualan di 2018, Mitsubishi Bersandar pada XPANDER

Kontribusi signifikan berasal dari segmen kendaraan penumpang Mitsubishi yang mencapai 98.964 unit dari capaian total 146.805 unit atau melonjak drastis 174%. Sekitar 70% lebih (69.274 unit) ternyata benar-benar mengandalkan penjualan model XPANDER. Sementara sisanya (sekitar 29.690 unit) terbagi di antara kendaraan penumpang Mitsubishi lainnya (Pajero Sport, Outlander Sport, Delica, Mirage, dan Lancer). Akankah tren ini bertahan di 2019, mengingat pesaing utamanya, versi terbaru ‘mobil sejuta umat’ Toyota Avanza, telah hadir di awal tahun ini?

BestCar Indonesia PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (PT MMKSI), distributor resmi kendaraan penumpang dan kendaraan niaga ringan dari Mitsubishi Motors Corporation (MMC), Kamis (31/01/2019), mengumumkan capaian penjualan kendaraan secara retail sebesar 146.805 unit pada periode Januari – Desember 2018. Ini sekaligus menjadi angka penjualan terbesar untuk model kendaraan penumpang dan niaga ringan Mitsubishi, selama 48 tahun kehadiran kendaraan Mitsubishi Motors di Indonesia.

Capaian penjualan ritel sepanjang 2018 tersebut naik lebih dari 84% dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya (2017), dengan kontribusi oleh lini kendaraan penumpang Mitsubishi sebesar 98.964 unit dan lini kendaraan niaga ringan sebesar 47.841 unit. Lewat capaian ini, persentase pangsa pasar kendaraan Mitsubishi Motors di Indonesia secara keseluruhan meningkat menjadi 14,2% pada tahun lalu.

Kontribusi signifikan memang berasal dari segmen kendaraan penumpang Mitsubishi yang mencapai 98.964 unit atau melonjak drastis 174% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dan yang paling mencolok, 70% lebih dari total penjualan ritel di segmen kendaraan penumpang Mitsubishi itu ternyata didominasi oleh penjualan model XPANDER. Itu artinya, sepanjang Januari-Desember 2018 lalu Xpander mendominasi penjualan ritel di segmen kendaraan penumpang Mitsubishi dengan total 69.274 unit.

Sementara sisanya, sekitar 29.690 unit, terbagi di antara kendaraan penumpang Mitsubishi lainnya (Pajero Sport, Outlander Sport, Delica, Mirage, dan Lancer). Dari jumlah itu, hanya Pajero Sport yang secara wholesales (pengiriman dari pabrik ke diler) mampu mencatat angka penjualan 21.029 unit sepanjang Januari-Desember 2018.

Sementara Outlander Sport hanya mampu terjual 816 unit pada periode yang sama. Dan lebih tragis lagi nasib dua model di segmen kendaraan penumpang Mitsubishi lainnya, Mirage dan Delica. Tahun lalu, kedua model ini bahkan telah ‘dipensiunkan’ oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), mengingat penjualannya yang anjlok drastis.

Mitsubishi Mirage, misalnya. City car Mitsubishi yang diimpor langsung dari Thailand ini awalnya sempat mencatat penjualan hingga 3.164 unit pada tahun pertama diluncurkannya di pasar nasional (2012), lalu naik menjadi 6.183 unit pada 2013. Tahun 2014 penjualannya sempat turun hingga 5.373 unit, sebelum naik lagi menjadi 6.551 unit pada 2015. Namun setelah itu penjualan Mirage terus turun drastis, menjadi 2.925 unit pada 2016 dan anjlok tinggal 1.674 unit di tahun 2017. Hingga September 2018, sebelum penjualannya dihentikan pada November 2018, penjualan Mirage hanya mencapai 260 unit.

Nasib Mitsubishi Delica lebih parah lagi. Pertama kali diluncurkan di Indonesia pada 2014 silam, rekor penjualan MPV boxy ini sempat tembus 404 unit di 2015. Namun angka penjualan wholesale-nya terus melorot hingga hanya 171 unit pada 2017 dan berada di titik terendah hanya 28 unit sepanjang semester pertama tahun 2018, sebelum akhirnya tak dipasarkan lagi pada Juli 2018.

Nah dengan semua kondisi tersebut, segmen kendaraan penumpang Mitsubishi saat ini boleh dibilang benar-benar bertumpu pada Xpander serta sedikit ‘bantuan’ dari Pajero Sport. Sepanjang tahun 2018 lalu, Xpander memang luar biasa ‘mencorong’. Sejak diluncurkan pada September 2017, Xpander tercatat sebagai satu-satunya LMPV yang mampu mematahkan dominasi ‘raja LMPV’ Toyota Avanza, dalam tiga bulan berturut-turut. Dimulai pada Februari 2018, data wholesales dari Gaikindo menyebutkan Mitsubishi Xpander meraih angka penjualan 7.400 unit, mengalahkan angka wholesales Avanza yang hanya 6.773 unit.

Begitu pula dengan Maret 2018, ketika penjualan Xpander mencapai angka 7.493 unit versus Avanza yang hanya meraih 7.097 unit.  sedangkan Xpander 7.493 unit. Lalu April 2018 gap penjualan keduanya makin tipis, namun Xpander masih memimpin dengan 7.097 unit, hanya terpaut sedikit di atas Avanza yang mencapai 6.917 unit. Secara keseluruhan penjualan Januari-April 2018, Mitsubishi Xpander meraih angka wholesales 29.069 unit sedangkan Avanza hanya 28.330 unit.

Memasuki Mei 2018, Xpander kembali menorehkan angka wholesales 7.601 unit, jauh di atas Avanza yang hanya mencatat 6.480 unit. Namun Avanza kembali menyalip di bulan Juni 2018, dengan perolehan 4.648 unit versus 3.278 unit yang diperoleh Xpander. Waktu penjualan yang pendek akibat libur Lebaran pada bulan Juni 2018 tampaknya memengaruhi penjualan Xpander, yang pasokan dari pabriknya di Karawang masih belum stabil. Namun sebulan berikutnya, Juli 2018, penjualan wholesales Xpander kembali mengungguli Avanza dengan 7.570 unit versus 6.766 unit.

Secara keseluruhan, data wholesales dari GAIKINDO di segmen Low-MPV (LMPV) pada periode Januari-Desember 2018 memperlihatkan bahwa Toyota Avanza pada akhirnya masih memimpin dengan 82.167 unit versus Mitsubishi Xpander yang memperoleh 75.772 unit. Namun begitu, bagaimanapun Xpander telah membuktikan diri mampu mengambil alih tahta LMPV di paruh tahun fiskal 2018. Dari Januari hingga Juni 2018, tercatat Xpander sudah terjual 39.948 unit. Sementara Avanza hanya terpaut sedikit, di angka 39.455 unit.

Toh pertarungan untuk mendapat ceruk pasar Low MPV belum usai. Kesuksesan Xpander sebagai ‘angsa bertelur emas’ bagi segmen kendaraan penumpang Mitsubishi bakal makin diuji tahun 2019 ini, apalagi Toyota telah ‘mencuri start’ dengan melansir versi teranyar Avanza dengan banyak perubahan di awal tahun ini. Toyota Avanza, diakui atau tidak, tetap belum kehabisan peminat. Meskipun bukan barang baru, dengan fitur yang cenderung ketinggalan, Avanza masih tetap diminati konsumen Indonesia.

Bagi MMKSI, pertaruhan terbesarnya saat ini memang ada di ceruk LMPV. Artinya, pabrikan berlambang tiga berlian ini mau tak mau akan ‘all out’ merawat kesuksesan Xpander – juga Pajero Sport, mengingat model kendaraan penumpang lainnya tak bisa diharapkan. ‘Kejatuhan’ penjualan Xpander, bagaimanapun, bakal membuat porak poranda segmen kendaraan penumpang Mitsubishi di Indonesia secara keseluruhan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para konsumen setia produk kendaraan penumpang serta niaga ringan Mitsubishi di Indonesia atas kepercayaan yang telah diberikan selama ini. Begitu banyak prestasi yang telah menorehkan sejarah bagi perkembangan Mitsubishi Motors di Indonesia, yang telah memiliki ‘heritage’ di kendaraan niaga yang sangat kuat, namun tetap sebagai ‘challenger’  atau penantang di pasar kendaraan penumpang. Dan sebagai ‘challenger’, di tahun 2018 ini kami telah berhasil mencatatkan banyak prestasi dalam kiprah Mitsubishi Motors di Indonesia, mulai dari menjadi distributor Mitsubishi Motors dengan penjualan terbesar di dunia, hingga capaian angka penjualan kendaraan penumpang dan niaga ringan Mitsubishi terbesar selama 48 tahun berbisnis di Indonesia,” ujar Irwan Kuncoro, Direktur Penjualan dan Pemasaran PT MMKSI.

 

Naik ke Posisi 4 Nasional

Secara nasional, data penjualan ritel Januari-Desember 2018 yang dilansir Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan Mitsubishi Indonesia berhasil naik ke posisi empat, menggeser Suzuki ke posisi lima. Dengan angka penjualan ritel 146.805 unit selama 2018, Mitsubishi meraih 14,2% pangsa pasar otomotif Tanah Air. Capaian ini meningkat nyaris dua kali lipat dari tahun 2017 yang anya memperoleh ndapat 7,5% pangsa pasar nasional (79.669 unit) pada periode yang sama tahun sebelumnya (Januari-Desember 2017).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, posisi Toyota sebagai penguasa pasar otomotif nasional belum tergoyahkan pada 2018 lalu. Berdasarkan data Gaikindo Januari-Desember 2018, penjualan retail Toyota mencapai 356.063 unit alias menguasai 30,9% dari total market share di 2018. Meski demikian, angka ini sebetulnya menurun dibanding capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya (2017) yang memperoleh total 370.015 unit atau sekitar 34,7% pangsa pasar.

Brand Daihatsu juga masih berada di posisi ke 2, dengan perolehan total 200.178 unit kendaraan atau menguasai sekitar 17,4% pangsa pasar otomotif nasional di 2018. Terbalik dengan Toyota, capaian Daihatsu tahun lalu itu justru meningkat dari 2017 yang hanya berhasil menjual 185.240 unit kendaraan. Namun secara market share, perolehan Daihatsu pada tahun 2017 tetap 17,4%.

Di bawah Daihatsu, ada merek Honda yang mengisi posisi ketiga dengan raihan sebanyak 162.956 unit selama 2018. Capaian ini membuat Honda memperoleh pangsa pasar (market share) 14,1%, meskipun menurun dari tahun 2017 yang berhasil mencatat angka 180.971 unit atau pangsa pasar 17%.

Setelah Mitsubishi di posisi keempat, Suzuki harus mengalah ke posisi kelima dengan capaian 116.688 unit kendaraan atau memperoleh 10,1% dari pangsa pasar otomotif nasional 2018. Capaian Suzuki ini sebetulnya meningkat dari 2017 yang hanya menjual 107.185 unit dan mendapat porsi 10% dari pasar nasional, namun secara posisi berhasil dilewati oleh Mitsubishi yang melejit drastis di 2018.

Posisi enam, tujuh dan delapan dihuni oleh merek komersial, yakni Fuso, Hino dan Isuzu yang menggabungkan produk komersial dan penumpangnya. Lalu di posisi sembilan ada pemain baru, Wuling, yang secara mengejutkan berhasil menjual 15.162 unit kendaraan dan memperoleh market share 1,3% dalam waktu setahun saja. Jauh meningkat dibanding perolehan tahun sebelumnya (2017) yang hanya berhasil menjual 3.268 unit atau sekitar 0,3% dari total pasar nasional.

Yang menyedihkan justru dialami Nissan-Datsun, yang tahun 2018 lalu berada di posisi paling buncit 10 besar. Datsun menempati posisi terakhir (10), dengan capaian penjualan ritel 9.823 unit (0,9% pangsa pasar nasional). Namun Nissan sendiri terdepak keluar dari 10 besar, hanya menempati urutan 11 dengan capaian 6.999 unit kendaraan atau hanya sekitar 0,6% dari market share nasional.

Nasib lebih tragis lagi justru dialami brand Mazda, yang tahun 2018 lalu hanya mampu mencapai posisi ke 12 alias hanya menjual 5.957 unit kendaraan secara ritel (0,5% dari pangsa pasar nasional). Sementara UD Trucks duduk di posisi ke 13, Chevrolet justru melorot ke posisi 14 dengan raihan 2.444 unit kendaraan atau hanya memperoleh 0,2% market share nasional. Di bawah Chevrolet, ada BMW yang menempati posisi ke 15 dengan 2.360 unit kendaraan, disusul Hyundai di posisi ke 16 dengan 1.485 unit, dan Lexus dengan 1.327 unit di posisi ke 17.

Selanjutnya di posisi ke 18 ada Tata yang bermain di produk komersial, disusul DFSK di posisi ke 19 dengan raihan 839 unit kendaraan. Urutan selanjutnya diisi oleh merek-merek mobil penumpang asal Eropa, seperti Mini dengan perolehan 520 unit kendaraan, VW dengan 511 unit kendaraan, Renault dengan 382 unit kendaraan, Peugeot dengan 141 unit kendaraan, dan Audi dengan 50 unit kendaraan.

Secara total, raihan pasar otomotif Indonesia pada 2018 mencapai 1.152.641 unit kendaraan penumpang maupun komersial. Raihan ini meningkat tipis dari perolehan selama 2017 yang mencatatkan angka penjualan 1.067.396 unit.

Teks: Yusran Hakim

Spesifikasi Mobil

Spesifikasi Keterangan
Tipe
Mesin
Tenaga Maksimum
Torsi Maksimum
Transmisi
Dimensi (P x L x t)
Wheelbase
Ground Clearance
Velg & Ban
Bobot
Kapasitas Tangki
0-100 km/jam
Konsumsi BBM
Kebisingan kabin idle/4000rpm
Harga



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *