Semakin Cerdas Memilih Mobil
MENU
Search
TMMIN30TahunEkspor-7

30 Tahun Ekspor Toyota Indonesia: 1,1 juta Unit dan Rp 250 Triliun

Ekspor nasional kendaraan secara utuh (CBU) pada Semester I tahun ini tercatat lebih dari 113.300 unit. Sementara, berdasarkan data Gaikindo, ekspor kendaraan bermerek Toyota pada periode yang sama telah mencapai 87% dari total ekspor kendaraan CBU Indonesia (mencapai 99.000 unit atau meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sejumlah 84.000 unit)

BestCar Indonesia – Sepanjang 30 tahun alias tiga dekade melakukan kegiatan ekspor, sejak pengapalan pertama pada 1987, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) ternyata telah mencatat total ekspor kendaraan utuh (Completely Buit-Up/CBU) bermerek Toyota mencapai lebih dari 1,1 juta unit, 833.500 unit kendaraan terurai (Completely Knock Down/CKD), 1.47 juta unit mesin utuh serta lebih dari 648 juta potong komponen dengan dengan total nilai mencapai USD 19 miliar (sekitar 250 triliun rupiah).

Aktivitas ekspor Toyota dimulai dengan pengapalan Kijang Super (Kijang generasi ke-3) ke Brunei Darussalam dan beberapa negara di Asia-Pasifik 30 tahun silam. Kinerja ekspor Toyota mengalami peningkatan yang signifikan setelah dimulainya proyek IMV  (International Innovative Multi-purpose Vehicle) — terdiri atas lima model kendaraan yaitu 3 model, yaitu pick-up truck (Hilux), SUV (Fortuner) dan Minivan (Kijang Innova). Kelima model ini memiliki platform yang sama. Proyek IMV dimulai tahun 2004 dengan Indonesia sebagai salah satu basis produksinya — pada tahun 2004.

Konsistensi serta komitmen yang kuat untuk selalu memelihara serta menigkatkan performa ekspor membawa produk-produk Toyota Indonesia dapat diterima dengan baik di lebih dari 80 negara di kawasan Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika dan Oseania.

TMMIN30TahunEkspor-2

Menurut Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono, ekspor nasional kendaraan secara utuh (CBU) pada Semester I tahun ini tercatat lebih dari 113.300 unit. Sementara, berdasarkan data Gaikindo, ekspor kendaraan bermerek Toyota pada periode yang sama telah mencapai 87% dari total ekspor kendaraan CBU Indonesia.  “Performa ekspor kendaraan bermerek Toyota pada semester pertama 2017 mencapai 99.000 unit atau meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sejumlah 84.000 unit,” papar Warih Andang di sela konferensi pers TMMIN – Media Gathering 1st Semester Achievement, Jumat lalu (28/07).

Pencapaian itu, lanjut Warih, ditopang oleh ekspor Toyota Fortuner sebesar 33.000 unit, Toyota Vios sebesar 15.000 unit, Kijang Innova sebesar 6.000 unit serta Yaris dan Sienta sebesar 4.000 unit. Sedangkan angka ekspor untuk Avanza, Rush, Town/Lite Ace dan Agya mencapai 41.000 unit.  Sepanjang semester I, untuk kendaraan dalam bentuk terurai atau completely knock down (CKD) ekspornya mencapai 24.000 unit, komponen mencapai 48 juta buah part, serta ekspor mesin tipe TR dan NR baik bensin maupun ethanol mencapai 68.000 unit.

Hingga saat ini Toyota telah mengekspor mobil CBU ke 14 negara. Negara-negara tersebut adalah Malaysia, India, Filipina, Thailand, Taiwan, Vietnam. Kemudian ada Oman, Bahrain, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Qatar, Laos, Kamboja, serta Myanmar. Tingginya minat konsumen di ASEAN terhadap model All New Fortuner, menurut Warih, menjadi salah satu faktor pendongkrak kinerja ekspor ini.

“Sekarang pasar yang tumbuh itu kan Asia, Afrika khususnya Afrika Utara, lalu Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Kami akan fokuskan ekspansi ke area-area yang tumbuh itu. Persaingannya besar, jadi kami secara proaktif (melakukan) studi mengenai area-area itu agar ekspor kita makin meningkat,” ungkap Warih.

TMMIN30TahunEkspor-1

Direktur Administrasi, Korporasi dan Permasalahan Eksternal TMMIN, Bob Azzam, menambahkan bahwa pasar Eropa saat ini dianggap telah lewat masa kejayaannya. “Dari perspektif pertumbuhan dan permintaan pasar, kita lebih baik fokus pada negara-negara yang punya prospektif di masa depan, terutama negara di sekitar Sungai Mekong yang kini dijuluki ‘Mekong Country’, seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, juga India. Australia juga masih berpotensi. Itu pasar-pasar besar yang akan tumbuh. Jadi, kita akan lebih konsentrasi ke pasar-pasar otomotif masa depan itu,” ungkapnya.

Warih menjelaskan, saat ini Toyota juga sedang menggodok rencana ekspansi model baru yang bakal diekspor pada 2020 ke atas, dijadwalkan untuk diputuskan akhir tahun depan. Yang jelas, kata Warih, Toyota akan terus berupaya untuk meningkatkan kinerja ekspor dengan menyediakan kendaraan berkualitas global yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasar, sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam mendorong ekspor nonmigas.

“Tahun ini Toyota menargetkan peningkatan ekspor kendaraan utuh bermerek Toyota sebesar 10% dibandingkan angka ekspor pada tahun 2016. Tercatat sebanyak lebih dari 80 negara di kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika menjadi tujuan ekspor Toyota,” ungkapnya.

TMMIN30TahunEkspor-4

Secara terpisah, Edward Otto Kanter yang kini menjabat Wakil Presiden Direktur TMMIN  — sebelumnya menjabat sebagai Senior Direktur – mengungkapkan bahwa tahun ini TMMIN juga telah mengekspor All-New Sienta dengan standar EURO 6 ke Singapura. “Sebenarnya kita sudah mengekspor Sienta dari Indonesia ke Singapura sejak tahun lalu, namun baru pada tahun ini kami mengekspor Sienta yang memiliki standar EURO 6. Ini untuk menyesuaikan regulasi emisi gas buang terbaru di Singapura, yang akan diterapkan pada akhir kuartal ketiga 2017,” paparnya di sela acara konferensi pers TMMIN – Media Gathering 1st Semester Achievement, Jumat lalu (28/07).

Terlepas dari ekspor Sienta ke Singapura yang sangat ketat mengenai regulasi emisi gas buang kendaraan, menurut Edward langkah itu sekaligus juga menandakan bahwa Toyota Indonesia sudah mampu memproduksi kendaraan berstandar EURO 6. Edward bahkan mengklaim bahwa Toyota menjadi produsen mobil pertama di Tanah Air yang mengekspor kendaraan berstandar EURO 6 ke luar negeri. “Rasanya begitu karena belum ada pabrikan lain yang telah mengumumkan hal yang sama,” ucap dia.

Kuota ekspor Sienta ke Singapura sendiri, menurut Edward, akan meningkat menjadi sekitar 30-50 unit per bulan dari sekitar 20-an unit per bulan saat ini. Sementara total kuota ekspor Sienta tahun ini ditargetkan mencapai 7.000 unit, meningkat sekitar 20% dibanding tahun lalu yang ada di kisaran 5.800 unit. Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor Sienta dari Indonesia adalah Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Menyusul kesuksesan ekspor Sienta berstandar EURO 6 ke Singapura, kabarnya TMMIN bakal mengekspor model lain dengan standar EURO 6 juga dalam waktu dekat. Sayangnya, sejauh ini pihak TMMIN masih ‘tutup mulut’ soal rincian model berstandar EURO 6 yang akan diekspor dan jadwal pastinya.

ToyotaKijang40Tahun-1
Komposisi 50%:50% untuk Domestik dan Ekspor

Sepanjang semester 1 tahun 2017, produksi kendaraan utuh di pabrik TMMIN (termasuk dari pabrik Daihatsu) mencapai 114.000 unit. Tiga angka produksi tertinggi pada semester I 2017 dicapai oleh Toyota Fortuner sebesar 44.000 unit, Toyota Kijang Innova sebesar 33.000 unit dan Toyota Vios sebesar 16.000 unit. Sedangkan angka produksi untuk Etios Valco, Yaris dan Sienta mencapai 21.000 unit.

Secara keseluruhan, pabrik TMMIN Karawang 1 dan 2 memiliki komposisi yang berimbang 50% : 50% untuk memproduksi kendaraan bagi pasar domestik maupun ekspor. Hal ini sekaligus menunjukan upaya perusahaan untuk berperan aktif terhadap perekonomian nasional salah satunya dengan menjaga operasi bisnis sebagai perusahaan otomotif yang berorientasi ekspor.

Lebih dari 90% produk Toyota yang dipasarkan oleh Toyota Grup di Indonesia sudah merupakan produksi dalam negeri sendiri. Model kendaraan yang diproduksi oleh pabrik TMMIN adalah Etios Valco, Vios, Yaris dan Sienta, yang menggunakan komponen lokal sebesar 60% – 80%. Sedangkan di segmen MPV dan SUV, penggunaan komponen lokal mencapai 85% untuk Kijang Innova dan 75% untuk Fortuner.

TMMIN30TahunEkspor-3

Dengan model-model yang dipasarkan di Indonesia lebih banyak diproduksi di dalam negeri daripada yang diimpor, menurut Warih Andang, itu berarti neraca perdagangan internal Toyota di Tanah Air surplus. Pada 2014, neraca perdagangan Toyota surplus 400 juta dolar AS (sekitar Rp 5,33 triliun). “Kami berusaha agar neraca perdagangan mencapai tiga kali lipat dari neraca 2014 pada tahun 2019 mendatang. Jika tercapai, nilai neraca perdagangan tahun 2019 akan mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp15,99 triliun),” paparnya.

Yang jelas, Toyota terus melakukan upaya untuk meningkatkan rasio kandungan dalam negeri. Sepanjang Semester pertama 2017 ini, misalnya, TMMIN baru saja menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan pemasok lokal level 2 terkait produksi lokal resin dan material non-woven —  material yang terbuat dari busa polypropylene berbentuk serat panjang yang terikat dan tersusun dengan kuat secara kimiawi dan mekanik, melalui poses panas dan perawatan dengan pelarut. Kain jenis ini mudah didaur ulang, sehingga tidak mencemari lingkungan. Ke depannya, lanjut Warih, TMMIN akan terus menggandeng berbagai pihak untuk melokalkan beberapa material pembentuk komponen lainnya seperti baja, aluminium, dan plastik sintetis.

Toyotamarket-4

TMMIN30TahunEkspor-5

“Apa yang dicapai TMMIN dan pelaku industri otomotif lainnya tentu tidak terlepas dari dampak positif sejumlah kebijakan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, termasuk iklim usaha bagi perkembangan industri otomotif yang lebih kondusif. Sehingga, peran industri otomotif dalam perekonomian nasional bisa terus meningkat. Tidak hanya Toyota, prinsipal otomotif lainnya telah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, sehingga potensi industri ini semakin besar,” ujar Warih Andang Tjahjono.

Senada dengan Warih, Edward Otto Kanter juga menegaskan bahwa peran strategis Toyota Indonesia sebagai salah satu basis produksi dan ekspor bagi Toyota Global membuat TMMIN terus berupaya untuk mengembangkan produk-produk yang melebihi ekspektasi pelanggan. “Ini seiring dengan semangat untuk berkontribusi secara signifikan dalam pengembangan industri otomotif Indonesia,” ujar Edward.

Keinginan untuk tumbuh, berdampingan bersama pemerintah serta berkembang bersama bangsa dan masyarakat dalam berbagai aspek telah mengisi perjalanan Toyota di Indonesia selama lebih dari 40 tahun. Melalui program “Toyota Berbagi” (Toyota, Bersama Membangun Indonesia) yang diluncurkan pada tahun 2013, Toyota telah menetapkan 3 pilar komitmen terhadap bangsa dan masyarakat Indonesia, yaitu produk dan teknologi, pengembangan industri, dan tanggung jawab sosial perusahaan. “Toyota berkomitmen untuk terus-menerus memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui peningkatkan aktivitas produksi, ekspor, dan kontribusi sosial di Indonesia,” tutup Warih.

Teks: Yusran Hakim

Foto: Esa Wijayantoro dan TAM

 

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia

Kantor Pusat Jakarta Utara, Indonesia
Pendirian 12 April 1971

(Didirikan pertama kali dengan nama PT. Toyota-Astra Motor)

Presiden Direktur Warih Andang Tjahjono
Pemegang Saham Toyota Motor Corporation (95%), PT. Astra International (5%)
Karyawan 9.500 (Per Desember 2016)

 Pabrik-Pabrik PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia

Pabrik Pabrik Karawang 1 Pabrik Karawang 2 Pabrik Karawang 3 Pabrik

Sunter 1

Pabrik

Sunter 2

Lokasi Karawang, Indonesia Jakarta Utara, Indonesia
Mulai Beroperasi 1998 2013 2016 1973 1977
Produk Kijang Innova, Fortuner Etios Valco,

Vios, Limo,

Yaris, Sienta

Mesin Bensin

& Etanol tipe NR

Mesin Bensin & Etanol tipe TR Stamping parts/dies, iron castings
Kapasitas Produksi Tahunan 130.000 unit 120.000 unit 216.000 unit Mesin: 195.000 unit;

Iron castings: 12.000 ton

 

 

Spesifikasi Mobil

Spesifikasi Keterangan
Tipe
Mesin
Tenaga Maksimum
Torsi Maksimum
Transmisi
Dimensi (P x L x t)
Wheelbase
Ground Clearance
Velg & Ban
Bobot
Kapasitas Tangki
0-100 km/jam
Konsumsi BBM
Kebisingan kabin idle/4000rpm
Harga



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *